Saham Konglomerat Grup Bakrie hingga Hapsoro Tumbang Lagi

Saham Konglomerat Grup Bakrie hingga Hapsoro Tumbang Lagi

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 13 Januari 2026 - 12:24
share

IDXChannel – Saham-saham emiten konglomerasi kembali tertekan pada perdagangan sesi I Selasa (13/1/2026), melanjutkan aksi jual yang sempat memicu flash selloff di bursa domestik pada Senin (12/1) sore.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham Grup Bakrie PT Darma Henwa Tbk (DEWA) ambles 6,96 persen ke Rp735 per unit, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terjun 4,59 persen menjadi Rp416 per unit, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) minus 3,57 persen.

Kemudian, saham milik Happy Hapsoro, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) merosot 5,24 persen, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) terdepresiasi 3,88 persen, PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA) 6,40 persen, hingga PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) 5,04 persen.

Saham milik Grup Barito besutan Prajogo Pangestu juga kembali tertekan, seperti BRPT yang turun 4,17 persen, BREN 2,78 persen, CUAN 2,09 persen, PTRO 0,89 persen.

Saham yang terafiliasi dengan Hashim Djojohadikusumo, WIFI, juga memerah 1,25 persen.

Seiring dengan kejatuhan saham-saham konglomerasi big cap di atas, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,07 persen ke 8.878,72.

Pada Senin, IHSG ditutup melemah 0,58 persen ke level 8.884,72, setelah terimbas penurunan saham-saham konglomerat.

Kemarin, IHSG sempat merosot tajam hingga 2,48 persen ke posisi 8.715,41 pada rentang waktu 14.25-14.30 WIB, sebelum berbalik pulih cepat dan memangkas pelemahan hanya dalam 3-5 menit berikutnya.

Kejatuhan mendadak IHSG kemarin terjadi setelah indeks acuan tersebut sempat mencetak rekor dengan menembus level 9.000 untuk pertama kalinya secara intraday pada perdagangan 8 Januari 2026.

Menurut catatan Ashmore Indonesia, penurunan tajam IHSG di awal pekan ini salah satunya dipicu laporan broker yang menyinggung potensi pelebaran defisit fiskal Indonesia melampaui 3 persen. Namun, Ashmore Indonesia menilai skenario tersebut relatif tidak realistis.

Ashmore Indonesia menjelaskan, peningkatan defisit fiskal di atas 3 persen memerlukan revisi undang-undang (UU) serta persetujuan DPR dan MPR yang melibatkan banyak partai politik.

Proses tersebut dinilai sulit dilakukan dalam waktu singkat tanpa pembahasan yang matang dan menyeluruh.

Selain itu, tekanan pasar juga diduga berasal dari aksi ambil untung sebagian investor menjelang pengumuman free float MSCI bulan ini.

Secara keseluruhan, Ashmore Indonesia memandang pelemahan pasar saat ini sebagai peluang untuk menerapkan strategi buy on dips.

Dengan bauran kebijakan fiskal dan moneter yang suportif sepanjang tahun ini, serta prospek pertumbuhan laba yang positif, valuasi IHSG dinilai tetap menarik dengan potensi kenaikan yang solid.

Sementara, menurut BRI Danareksa Sekuritas, penurunan signifikan IHSG pada perdagangan Senin akibat kombinasi sejumlah sentimen negatif, baik dari global maupun domestik. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik