Harga Minyak Melesat 7 Persen Sepekan di Tengah Ketegangan AS-Iran
IDXChannel - Harga minyak mentah mencatat kenaikan mingguan paling tajam sejak Oktober, didorong ekspektasi potensi aksi militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan.
Sentimen bullish juga diperkuat oleh hilangnya sebagian produksi minyak AS akibat badai musim dingin Fern.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup melemah 0,3 persen ke level USD65,21 per barel pada Jumat (30/1/2026), namun tetap membukukan kenaikan 6,8 persen sepanjang pekan.
Sementara itu, kontrak Brent untuk pengiriman Maret berakhir nyaris tidak berubah di USD70,69 per barel, tetapi melonjak 7,3 persen secara mingguan.
Pada sesi Jumat, harga minyak sempat tergelincir di tengah sinyal kesediaan Amerika Serikat dan Iran untuk membuka jalur perundingan.
“Pasokan global masih relatif melimpah. Namun, permintaan ternyata sedikit lebih kuat dari perkiraan, dan gelombang udara dingin terbaru telah menghambat produksi minyak AS,” kata Dennis Kissler dari BOK Financial, dikutip Dow Jones Newswires.
“Semua perhatian pasar saat ini tertuju pada Iran,” ujar Partner Again Capital John Kilduff, dikutip dari Reuters.
Kilduff menambahkan, “Pasar sebelumnya sudah memasukkan banyak risiko geopolitik terkait Iran, tetapi saat ini sulit mengukurnya secara pasti. Pertanyaannya, jika benar ada aksi terhadap Iran, apa respons yang akan diambil Teheran?”
Pada Kamis, harga minyak sempat menyentuh level tertinggi sejak awal Agustus. Sejumlah sumber menyebutkan Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan berbagai opsi terhadap Iran, termasuk serangan terbatas, yang memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak global.
Baik AS maupun Iran kemudian menyampaikan sinyal kesiapan untuk berdialog.
Namun, Teheran pada Jumat menegaskan bahwa kemampuan pertahanannya tidak boleh menjadi bagian dari agenda perundingan.
“Kenaikan harga ini mulai tertahan seiring munculnya prospek gencatan senjata dingin antara Rusia dan Ukraina, serta kemungkinan bahwa serangan terhadap Iran tidak terjadi, ketika pemerintahan Trump membuka peluang pembicaraan soal program nuklir Iran,” kata analis senior Price Futures Group Phil Flynn.
AS, yang dalam beberapa pekan terakhir memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah, juga menjatuhkan sanksi baru yang menargetkan tujuh warga negara Iran serta setidaknya satu entitas.
Penguatan dolar AS dari posisi terendah empat tahun yang tercapai awal pekan ini turut menekan harga minyak. Kenaikan dolar pada Jumat terjadi setelah Trump mengumumkan rencananya menunjuk mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh sebagai Ketua bank sentral AS, menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir pada Mei.
Penguatan dolar berpotensi menahan permintaan minyak dari pembeli yang menggunakan mata uang selain greenback.
“Kenaikan kembali produksi minyak mentah AS setelah penghentian sementara, serta Kazakhstan yang mendekati dimulainya kembali produksi di ladang minyak Tengiz, ikut memengaruhi perubahan sentimen pasar. Dengan kinerja harga yang sangat kuat sepanjang pekan, aksi ambil untung menjelang akhir pekan menjadi hal yang wajar,” kata analis PVM Oil Associate Tamas Varga.
Sementara itu, periode puncak pemeliharaan kilang minyak utama Rusia pada tahun ini diperkirakan berlangsung bulan ini dan kembali terjadi pada September, berdasarkan perhitungan Reuters yang mengacu pada estimasi sumber industri.
Survei Reuters terhadap 32 analis menunjukkan mayoritas responden memperkirakan harga minyak akan bertahan di kisaran USD60 per barel sepanjang tahun ini, seiring prospek kelebihan pasokan yang menyeimbangkan potensi gangguan akibat ketegangan geopolitik. (Aldo Fernando)










