Asing Lego Saham Bank Besar dan Tambang Konglomerat di Tengah Gejolak MSCI

Asing Lego Saham Bank Besar dan Tambang Konglomerat di Tengah Gejolak MSCI

Ekonomi | idxchannel | Minggu, 1 Februari 2026 - 10:54
share

IDXChannel – Tekanan jual investor asing kian terasa di pasar saham Indonesia sepanjang sepekan terakhir.

Saham-saham berkapitalisasi besar, terutama perbankan jumbo dan emiten tambang milik konglomerasi, menjadi sasaran utama aksi net sell asing di tengah gejolak pasar akibat sorotan MSCI.

Data perdagangan menunjukkan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan net sell asing terbesar, mencapai sekitar Rp8,12 triliun dalam sepekan, seiring koreksi harga sahamnya sebesar 3,27 persen ke level Rp7.400 per unit.

Tekanan serupa juga dialami PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang dilepas asing senilai Rp2,72 triliun dan turun 3,41 persen ke posisi Rp4.820 per unit.

Aksi jual asing tak hanya menyasar sektor perbankan. Saham tambang batu bara milik kelompok usaha Bakrie dan Salim juga ikut tertekan.

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan net sell asing sekitar Rp1,49 triliun dengan penurunan harga tajam hingga 28,33 persen dalam sepekan ke level Rp258 per unit.

BUMI bersama PT Petrosea Tbk (PTRO) milik Prajogo Pangestu sebelumnya digadang-gadang menjadi kandidat kuat masuk indeks MSCI pada Februari mendatang.

Namun, rencana tersebut tertahan setelah pengelola indeks global itu membekukan proses rebalancing menyusul isu free float dan transparansi kepemilikan saham di bursa domestik.

Sementara itu, emiten tambang pelat merah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dilepas asing Rp1,05 triliun, meski koreksinya relatif lebih terbatas, yakni 1,86 persen ke Rp4.210 per unit.

Tekanan juga terlihat pada saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang mencatatkan net sell Rp1,11 triliun dan turun 4,51 persen, serta saham perbankan pelat merah lain seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).

Aksi jual asing ini terjadi di tengah kondisi pasar yang bergejolak dalam beberapa hari terakhir, setelah MSCI menyoroti risiko kelayakan investasi (investability) pasar saham Indonesia, terutama terkait transparansi struktur kepemilikan saham dan ketersediaan data free float emiten.

Sorotan tersebut memicu tekanan jual dan arus dana asing keluar, yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak volatil.

Kondisi pasar kian sensitif setelah IHSG sempat mengalami penghentian sementara perdagangan (trading halt) selama 30 menit pada Rabu (28/1/2026) dan Kamis (29/1), usai terkoreksi hingga 8 persen secara intraday.

Pada perdagangan Jumat (30/1) pagi, volatilitas kembali mewarnai pergerakan IHSG seiring pelaku pasar merespons kabar pengunduran diri Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman. IHSG sempat dibuka menguat ke level 8.408,30 sebelum berbalik melemah tajam hingga 8.167,16.

Pada pukul 09.43 WIB, indeks perlahan rebound dan mencatatkan penguatan 0,65 persen ke level 8.286, sebelum akhirnya ditutup menguat 1,18 persen ke posisi 8.329,61 pada Jumat lalu.

Berdasarkan data BEI, investor asing mencatatkan net sell Rp1,87 triliun di pasar reguler pada pekan lalu. Secara kumulatif sepanjang sepekan, arus keluar dana asing mencapai Rp15,77 triliun.

Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai, secara teknikal area support IHSG saat ini berada di level psikologis 8.000.

MSCI sebelumnya menilai minimnya transparansi struktur kepemilikan perusahaan serta data free float menjadi sumber utama kekhawatiran terhadap pasar saham Indonesia. Peringatan tersebut menambah tekanan pada pasar yang selama ini sudah dibayangi arus keluar investor asing.

MSCI juga mengingatkan, jika tidak terjadi perbaikan yang berarti dalam aspek transparansi hingga Mei mendatang, bobot saham Indonesia di indeks pasar berkembang berpotensi diturunkan. Bahkan, Indonesia juga berisiko diturunkan statusnya dari emerging market menjadi frontier market.

Merespons sorotan MSCI tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self Regulatory Organization (SRO) menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari penyampaian data kepemilikan saham emiten yang lebih rinci sesuai praktik internasional hingga rencana penerbitan aturan free float minimum 15 persen bagi emiten baru maupun yang telah tercatat.

Selain pengunduran diri Iman, kisruh terkait MSCI juga diikuti mundurnya tiga petinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yakni Ketua Dewan Komisioner Mahendra Siregar, Wakil Ketua Dewan Komisioner Mirza Adityaswara, serta Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Inarno Djajadi.

Sementara itu, OJK menunjuk Friderica Widyasari Dewi sebagai Anggota Dewan Komisioner Pengganti Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner.

Selain Friderica, OJK juga menetapkan Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto, sebagai Anggota Dewan Komisioner Pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon.

Penunjukan tersebut ditetapkan dalam Rapat Dewan Komisioner OJK yang digelar di Jakarta, Sabtu (31/1/2026), dan berlaku efektif pada tanggal yang sama. (Aldo Fernando)

Topik Menarik