Gencatan Senjata AS-Iran Dorong Optimisme Sederet Saham Komoditas
IDXChannel - Kesepakatan gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran membuat harga minyak dunia anjlok, sementara saham dan obligasi menguat pada Rabu (8/4/2026) pagi.
Pasar pun mulai merespons optimis, meski belum pasti, sehingga beberapa saham komoditas logam dinilai berpotensi rebound setelah pekan-pekan sebelumnya tertekan ketegangan geopolitik.
Kontrak berjangka (futures) minyak WTI bahkan menembus di bawah level psikologis USD100 per barel, tercatat jatuh 16,9 persen ke USD93,90 per barel per pukul 06.37 WIB.
Melansir dari Reuters, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Washington sepakat menangguhkan serangan terhadap Iran selama dua pekan, sambil mendorong tercapainya perjanjian damai jangka panjang.
Laporan CNN International menyebut Israel telah menyetujui gencatan senjata yang diumumkan Trump di Truth Social, mengutip pejabat Gedung Putih yang tidak disebutkan namanya.
Harga Tiket Pesawat Mahal pada Mudik Lebaran 2026, Kemenhub Beri Extra Flight di Rute Padat
Sementara itu, The New York Times melaporkan Iran menerima proposal gencatan senjata dua pekan yang diajukan Pakistan dan telah disetujui oleh pemimpin tertinggi baru Iran.
Dewan Keamanan Tertinggi Iran mengatakan bahwa pihaknya telah menyampaikan proposal 10 poin kepada Amerika Serikat melalui Pakistan, kata media pemerintah, seperti dikutip Reuters. Iran juga menyatakan bahwa pembicaraan dengan AS akan diadakan di Islamabad, Pakistan.
Pembicaraan dijadwalkan mulai 10 April, menurut laporan media pemerintah Iran. Iran menegaskan bahwa dialog dengan AS tidak berarti perang berakhir. Pihak Iran hanya akan menyetujui penutupan konflik setelah semua detail diselesaikan sesuai rencana 10 poin, kata media Iran.
Riset Indo Premier Sekuritas yang terbit pada 6 April 2026 menilai dinamika pengiriman minyak melalui Selat Hormuz tetap menjadi faktor kunci yang menentukan arah pergerakan komoditas global dan strategi investasi ke depan, terlepas dari apakah gencatan senjata benar-benar terjadi atau tidak.
Indo Premier menjelaskan Iran kemungkinan masih akan menjadikan Selat Hormuz sebagai alat tawar utama dalam konflik karena jalur tersebut mengangkut sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Penutupan jalur ini telah menyebabkan sekitar 12 juta barel per hari produksi minyak terhenti, termasuk produk turunan seperti naphta, sulfur, dan LNG.
Pengiriman dari Yanbu melalui pipa East-West Arab Saudi meningkat sekitar 40 persen dibandingkan sebelum perang hingga mencapai sekitar 7 juta barel per hari.
Namun, jalur alternatif tersebut dinilai tidak mampu sepenuhnya menggantikan peran Selat Hormuz dalam jangka panjang.
Data Kpler menunjukkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz baru mencapai sekitar 5-10 kapal per hari, jauh di bawah rata-rata normal sekitar 120 kapal per hari.
Selain itu, gangguan di Selat Bab el-Mandeb juga menjadi risiko tambahan bagi rantai pasok energi global.
Menurut catatan Indo Premier, dari sisi sektor, sejak perang AS-Iran dimulai pada awal Maret 2026, sektor batu bara menjadi satu-satunya yang mampu mengungguli IHSG.
Sebaliknya, saham logam mulia dan logam dasar seperti AMMN, INCO, NCKL, dan TINS melemah, sementara saham minyak dan gas bergerak terbatas karena sebelumnya sudah mencatatkan kinerja positif sejak awal tahun.
Dalam skenario gencatan senjata, Indo Premier memperkirakan reaksi awal pasar adalah koreksi pada saham energi, sementara saham nikel dan emas berpotensi pulih. Kondisi serupa sempat terlihat pada 1 April ketika narasi gencatan senjata menguat di pasar.
Meski demikian, peluang pada saham energi dinilai tetap terbuka setelah fase koreksi awal. Indo Premier memperkirakan backlog pengiriman minyak membutuhkan waktu satu hingga dua bulan untuk kembali normal.
Sementara persediaan minyak global di laut telah menurun tajam sehingga harga minyak diperkirakan tetap bertahan di kisaran minimal USD85-USD90 per barel.
Meski demikian, pasar mulai terbiasa dengan dinamika negosiasi yang berubah-ubah.
Dalam skenario ekstrem jika Selat Hormuz tetap tertutup lebih lama, Indo Premier memperingatkan risiko lonjakan harga minyak, kehilangan persediaan hingga sekitar 200 juta barel pada pertengahan April, serta potensi inflasi akibat gangguan pasokan energi.
“Dalam skenario ini, inflasi akibat gangguan pasokan (supply-shock inflation) berpotensi terjadi. Meski dalam jangka pendek seluruh logam kemungkinan tertekan, logam dasar dan emas diperkirakan diuntungkan dalam jangka menengah hingga panjang karena berpotensi memicu supercycle baru sekaligus menjadi aset lindung nilai utama, mirip dengan yang terjadi pada era 1970-an,” tulis Indo Premier.
Untuk strategi perdagangan, Indo Premier merekomendasikan saham MBMA, NCKL, INCO, dan ANTM serta TINS dalam skenario gencatan senjata, karena emiten nikel tersebut dinilai berpotensi pulih setelah sebelumnya tertekan oleh kenaikan biaya energi dan keterbatasan pasokan sulfur dari Timur Tengah. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.










