Respons Pelaku Pasar Usai AS-Iran Sepakati Gencatan Senjata Dua Minggu
IDXChannel - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyetujui gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran. Pengumuman itu kurang dari dua jam sebelum batas waktu yang dia tetapkan bagi Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz atau ancaman serangan besar terhadap infrastruktur sipilnya.
Melansir Reuters, Rabu (8/4-2026), harga minyak anjlok, obligasi menguat, dan saham melonjak usai gencatan senjata.
Kepala Ekonom William Buck di Sydney, Besa Deda, mengatakan bahwa terdapat optimisme yang hati-hati di pasar karena ini merupakan gencatan senjata bermakna pertama sejak konflik dimulai.
Namun, investor tetap menyadari bahwa kondisi ini belum tentu bertahan, meski diharapkan dapat membatasi risiko dampak ekonomi yang lebih dalam.
Dia menambahkan bahwa sekalipun gencatan senjata ini berujung pada penyelesaian, kerusakan pada kilang dan infrastruktur tetap membutuhkan waktu untuk diperbaiki dan dinormalisasi, meskipun situasi ini tetap jauh lebih baik dibandingkan dampak berkepanjangan.
Sementara itu, Chief Rates Strategist Barrenjoey di Sydney, Andrew Lilley, mengatakan bahwa masih dibutuhkan waktu panjang untuk kembali ke kondisi sebelum konflik dimulai, sementara pasar saat ini belum yakin apakah harga minyak bisa kembali ke level USD75.
Dia menjelaskan bahwa dalam skenario di mana pasokan minyak tetap mengalir tanpa kekurangan namun bertahan di kisaran harga keseimbangan sekitar USD90, hal tersebut justru mengurangi risiko ekstrem yang biasanya mendorong bank sentral untuk menurunkan suku bunga.
Menurutnya, kondisi ini berpotensi menciptakan situasi di mana imbal hasil tetap tinggi, dipicu oleh kerusakan infrastruktur dan harga minyak yang tinggi dalam jangka waktu lama, yang pada akhirnya akan mendorong inflasi tetap tinggi.
Kepala Riset K2 Asset Management di Melbourne, George Boubouras, mengatakan bahwa pengisian kembali pasokan energi akan menjadi kunci dalam waktu dekat, mengingat konflik dapat kembali memanas dengan cepat. Hal ini dinilai dapat menurunkan kemungkinan terjadinya resesi, terutama jika aliran minyak, gas, dan pupuk meningkat dalam waktu dekat.
Di menambahkan bahwa pasar bersikap pragmatis dan tidak lengah, karena pelaku pasar cenderung melihat melampaui konflik yang terjadi, sementara valuasi aset masih dinilai menarik dalam jangka waktu satu tahun ke depan.
(NIA DEVIYANA)










