IEA: Pasokan Minyak Pulih, tapi Normalisasi Selat Hormuz Butuh Berbulan-bulan
IDXChannel - Guncangan pasokan minyak dari kawasan Teluk diperkirakan menekan permintaan minyak global secara tajam sebelum arus perdagangan melalui Selat Hormuz berangsur kembali normal.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pasokan minyak global pulih hingga 8 juta barel per hari pada 2027.
Meski kesepakatan sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dijadwalkan ditandatangani pekan ini menjadi terobosan terbesar dalam negosiasi sejak perang dimulai, pemulihan penuh arus minyak melalui jalur strategis Selat Hormuz diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan.
IEA, yang mewakili negara-negara Barat dan sekutunya, kini memperkirakan permintaan minyak global turun 1,1 juta barel per hari tahun ini.
Proyeksi tersebut jauh lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya yang memperkirakan penurunan hanya 420.000 barel per hari, akibat harga minyak yang tinggi dan gangguan pasokan yang parah.
Pada tahun depan, pertumbuhan permintaan minyak diperkirakan kembali meningkat menjadi 2 juta barel per hari seiring normalisasi arus perdagangan, penurunan harga minyak, dan membaiknya prospek ekonomi global.
Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik, dengan penandatanganan resmi dijadwalkan pada Jumat.
Meski rincian lengkap kesepakatan belum diungkap, The Wall Street Journal melaporkan bahwa perjanjian tersebut mencakup pengecualian sanksi AS terhadap penjualan minyak Iran serta pencabutan blokade dari kedua negara di Selat Hormuz.
Harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, turun di bawah USD80 per barel pada Rabu.
Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) melemah ke sekitar USD75 per barel.
Kedua harga acuan tersebut sebelumnya ditutup turun lebih dari 5 persen pada perdagangan Selasa, mencatat level penutupan terendah sejak awal Maret.
"Meski rincian kesepakatan masih perlu diperjelas dan sejumlah masalah masih belum terselesaikan, ini merupakan langkah maju yang menggembirakan," kata IEA dalam laporan bulanan terbarunya pada Rabu, dilansir dari Dow Jones Newswires, Rabu (17/6/2026),
IHSG Pekan Ini Diprediksi Tertekan ke 6.538-6.640 Imbas Rebalancing MSCI, Cek Rekomendasi Saham
IEA menambahkan, "Pemulihan penuh tidak akan terjadi secara langsung karena ranjau harus disingkirkan dari jalur pelayaran utama dan rantai pasokan membutuhkan waktu untuk kembali normal."
Perang AS dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari telah melumpuhkan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz.
Jalur tersebut biasanya menjadi rute bagi sekitar seperlima dari total aliran minyak dan gas alam dunia.
Pelaku pasar kini memperkirakan pemulihan penuh membutuhkan waktu berbulan-bulan karena perusahaan pelayaran masih menghadapi berbagai tantangan logistik dan keamanan, mulai dari penempatan ulang kapal, pengaturan jadwal pelabuhan, hingga perlindungan asuransi.
IEA memperkirakan pasokan minyak global turun 3,9 juta barel per hari tahun ini karena sekitar seperlima pasokan minyak dunia tertahan di kawasan Teluk Persia.
Namun, produksi diperkirakan kembali meningkat hingga 8 juta barel per hari pada tahun depan.
Pada Mei, produksi global tercatat 13,6 juta barel per hari di bawah tingkat sebelum perang. Ekspor minyak dari negara-negara Teluk turun 1,1 juta barel per hari dan hampir 15 juta barel per hari lebih rendah dibandingkan level Februari.
Ekspor minyak Iran menjadi salah satu yang paling terdampak akibat blokade Amerika Serikat, dengan penurunan 1,4 juta barel per hari menjadi hanya 230.000 barel per hari.
Sebagian kehilangan pasokan tersebut tertutupi oleh peningkatan aktivitas transfer antar-kapal di Teluk Oman, jalur perdagangan yang sering digunakan untuk menyamarkan asal muatan minyak.
Volume transfer tersebut meningkat tajam pada Mei dan mencapai hingga 1,8 juta barel per hari pada awal Juni.
Penurunan persediaan minyak global yang terpantau semakin cepat pada Mei menjadi 143 juta barel. Hal itu membuat rata-rata laju penurunan stok sejak konflik dimulai mencapai 3,8 juta barel per hari.
Sementara itu, persediaan pemerintah negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) turun 163 juta barel ke level terendah sejak Desember 1990, menurut IEA.
Pengurangan stok global tersebut membantu membatasi kenaikan harga minyak meski gangguan pasokan berlangsung selama berbulan-bulan.
4 Fakta Rupiah Anjlok Rp17.600, Purbaya Bandingkan Krisis 1998 hingga Harga BBM Bakal Naik
Permintaan global yang lebih lemah, penurunan impor minyak mentah China, peningkatan ekspor AS, serta pemanfaatan jalur pipa dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) turut meredakan tekanan di pasar dan mengimbangi sebagian kekurangan pasokan. (Aldo Fernando)









