Mirae Asset Sekuritas: BI Tahan BI-Rate 5,75 persen, Asing Masih Net Sell Rp468 Miliar

Mirae Asset Sekuritas: BI Tahan BI-Rate 5,75 persen, Asing Masih Net Sell Rp468 Miliar

Ekonomi | idxchannel | Jum'at, 25 September 2026 - 14:44
share

IDXChannel – Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai keputusan tersebut memberikan sentimen positif bagi pasar domestik. IHSG tercatat rebound 1,56 persen ke level 6.375, sementara rupiah menguat ke sekitar Rp17.800 per dolar AS. Namun, arus dana asing belum menunjukkan pembalikan yang signifikan.

Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan investor masih perlu mencermati perkembangan foreign flow setelah keputusan BI. Pada perdagangan terakhir, investor asing mencatatkan net sell Rp468 miliar di pasar reguler, terutama pada saham BBRI, BMRI, dan TLKM. Secara year-to-date, outflow asing mencapai sekitar Rp102,9 triliun, sementara pembelian selektif terjadi pada saham MDKA dan TINS.

“Pasca RDG, fokus bergeser dari keputusan BI ke efektivitas policy mix dalam menjaga Rupiah sekaligus likuiditas. Dengan global yields kembali naik, keberlanjutan rebound IHSG akan sangat bergantung pada stabilisasi Rupiah dan yang terpenting kembalinya foreign demand pada liquid large caps,” ujar Rully.

Tekanan eksternal juga masih membayangi pasar domestik. Wall Street melemah dengan S&P 500 turun 0,8 persen, Nasdaq 1,1 persen, dan Dow Jones 0,7 persen. Yield US Treasury 10 tahun kembali menembus 5,1 persen, sementara harga minyak naik hampir 4 persen di tengah ketidakpastian terkait Iran.

Fixed Income Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa menilai ruang penguatan pasar domestik masih terbuka, meski kondisi global menjadi faktor penting dalam jangka pendek. Menurutnya, pergerakan global interest rate akan memengaruhi perekonomian domestik, terutama melalui dampaknya terhadap penguatan maupun pelemahan rupiah.

Jessica menilai stance BI melalui policy mix menunjukkan upaya menjaga stabilitas tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut terlihat dari kemampuan BI menjaga rupiah di sekitar Rp17.800 per dolar AS meski indeks dolar AS (DXY) telah mencapai level 101.

Di pasar SBN, foreign participation relatif stabil di sekitar 13 persen dari total outstanding. Jessica menyebut ruang penguatan masih terbuka, dengan kondisi tersebut turut didukung kebijakan fiskal yang terjaga dan perkembangan di Kementerian Keuangan. Jika rupiah kembali melewati Rp18.000 per dolar AS, ruang bagi BI untuk kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 bps tetap terbuka.

Ke depan, BI diperkirakan cenderung mempertahankan suku bunga sambil mencermati kebutuhan insentif tambahan untuk menarik foreign inflow dan menjaga stabilitas rupiah. Jessica juga menyebut imbal hasil SRBI telah berada di bawah 7 persen di seluruh tenor, sementara SBN tenor medium to long term dinilai masih atraktif.

(Shifa Nurhaliza Putri)

Topik Menarik