Usai Bantai 303 Orang, Netanyahu Perintahkan Israel Negosiasi dengan Lebanon
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengatakan dia telah menginstruksikan para menteri untuk memulai negosiasi perdamaian langsung dengan Lebanon sesegera mungkin.
Perintah ini disampaikan pada hari Kamis atau sehari setelah serangan besar-besaran Israel menewaskan 303 orang di Lebanon—yang oleh penduduk Beirut dinyatakan sebagai "pembantaian Rabu kelam".
Baca Juga: Iran Tutup Lagi Selat Hormuz setelah 100 Rudal Israel Bunuh 254 Orang di Lebanon
"Mengingat permintaan berulang Lebanon untuk membuka negosiasi langsung dengan Israel, saya menginstruksikan kabinet kemarin untuk memulai negosiasi langsung dengan Lebanon sesegera mungkin," kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan.
"Negosiasi akan fokus pada pelucutan senjata Hizbullah dan membangun hubungan damai antara Israel dan Lebanon," paparnya.
Negosiasi akan dipimpin oleh duta besar Israel untuk Washington, Yechiel Leiter.Belum dikonfirmasi siapa yang akan memimpin delegasi Lebanon, tetapi beberapa laporan media lokal mengatakan itu bisa jadi duta besar Lebanon untuk Washington, Nada Mouawad, atau mantan duta besar Simon Karam.Israel menolak untuk menghentikan pengeboman yang sedang berlangsung di Lebanon selama potensi pembicaraan apa pun, dengan seorang pejabat Zionis mengatakan negosiasi akan berlangsung "di bawah tembakan".
Beirut telah menyerukan gencatan senjata sebelum memulai negosiasi apa pun.
Seorang pejabat AS mengatakan pada hari Kamis bahwa Israel dan Lebanon akan mengadakan pembicaraan minggu depan di Washington.
"Kami dapat mengonfirmasi bahwa Departemen Luar Negeri akan menyelenggarakan pertemuan minggu depan untuk membahas negosiasi gencatan senjata yang sedang berlangsung dengan Israel dan Lebanon," kata seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS, membenarkan laporan sebelumnya dari sumber yang mengetahui upaya diplomatik tersebut.Pembicaraan akan segera dilakukan setelah Amerika Serikat dan Iran membuka pembicaraan di Pakistan setelah kedua pihak menyetujui gencatan senjata selama dua minggu. Pakistan dan Iran mengatakan gencatan senjata akan mencakup seluruh wilayah, termasuk Lebanon, tetapi Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump membantah hal itu.
Sumber resmi Lebanon mengatakan kepada The New Arab bahwa pertemuan pertama di Washington akan bersifat persiapan dan awalnya akan berlangsung di tingkat duta besar.
Sumber-sumber tersebut menambahkan bahwa Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam sedang bersiap untuk mengunjungi AS sebagai bagian dari upaya yang sedang berlangsung untuk mencapai solusi.
Anggota parlemen Hizbullah, Ali Fayyad, mengatakan pada hari Kamis bahwa kelompok tersebut menolak negosiasi langsung dengan Israel dan bahwa pemerintah Lebanon harus menuntut gencatan senjata sebagai prasyarat sebelum langkah lebih lanjut diambil.
Fayyad mengatakan posisi pemerintah Lebanon juga harus memprioritaskan penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon dan pemulangan pengungsi ke rumah mereka.
Pembantaian 303 Orang pada Rabu Kelam
Pembicaraan langsung akan menjadi langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi kedua negara, yang belum pernah memiliki hubungan diplomatik formal dalam sejarah Israel selama 78 tahun.Upaya baru-baru ini oleh para pejabat Lebanon untuk melakukan negosiasi ditolak oleh Israel, yang telah menuntut pemerintah untuk secara paksa melucuti senjata Hizbullah yang didukung Iran sebagai prasyarat untuk pembicaraan perdamaian.
Satu jam sebelum pernyataan Netanyahu muncul, Presiden Lebanon Joseph Aoun mengatakan bahwa negosiasi langsung dengan Israel adalah "satu-satunya solusi" untuk kesulitan yang dihadapi negaranya.
Ini terjadi sehari setelah pesawat tempur Israel menewaskan 303 orang di seluruh Lebanon dalam serangan bom terberat selama perang enam minggu dengan Hizbullah. Serangan tersebut menargetkan daerah sipil yang padat penduduk, termasuk Beirut.
Kementerian Kesehatan Lebanon membenarkan bahwa jumlah korban tewas akibat serangan Israel pada hari Rabu di seluruh negeri telah meningkat menjadi 303 orang, dengan 1.150 orang terluka.
Dalam sebuah pernyataan, Pusat Operasi Darurat Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung di beberapa lokasi, dengan pihak berwenang berupaya untuk mengambil jenazah dari bawah reruntuhan dan mengidentifikasi korban, termasuk melalui tes DNA.
Jumlah korban tewas akibat serangan Israel di Lebanon sejak 2 Maret telah meningkat menjadi 1.888 orang tewas dan 6.092 orang terluka, imbuh kementerian tersebut.










