Harga Minyak Berpeluang Fluktuatif Pekan Ini, WTI Diproyeksi di Kisaran USD56-USD59
IDXChannel – Harga minyak naik sekitar 2 persen pada Jumat (9/1/2026) pekan lalu, didorong meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan menyusul memanasnya aksi protes di Iran, salah satu negara produsen minyak utama, serta eskalasi serangan dalam perang Rusia-Ukraina.
Kontrak berjangka (futures) Brent ditutup menguat 2,18 persen ke level USD63,34 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik USD1,36 atau 2,35 persen ke USD59,12 per barel.
Kedua acuan harga tersebut sebelumnya telah melonjak lebih dari 3 persen pada Kamis, setelah sempat melemah selama dua hari berturut-turut. Selam pekan lalu, Brent mencatatkan kenaikan sekitar 4 persen, sedangkan WTI menguat sekitar 3 persen.
“Pemberontakan di Iran membuat pasar tetap waspada,” kata Analis Senior Price Futures Group Phil Flynn, dikutip Reuters.
Kekhawatiran terhadap potensi gangguan produksi minyak Iran meningkat seiring memburuknya kerusuhan sipil di negara Timur Tengah tersebut.
MNC Insurance Business Group Bersama MNC Peduli Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana Banjir Sumatra
“Protes di Iran tampak semakin menguat, sehingga pasar khawatir akan gangguan pasokan,” ujar Kepala Analisis Komoditas Saxo Bank Ole Hansen.
Prospek Sepekan
Harga minyak mentah WTI Crude Oil bertahan stabil di atas level USD58 per barel di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Analis Daily Forex Robert Petrucci menilai, pada Minggu (11/1/2026), pasar minyak saat ini dipenuhi berbagai sentimen, mulai dari berlanjutnya pemberontakan di Iran hingga krisis kepemimpinan yang belum menemukan kejelasan di Venezuela.
WTI mencatatkan penguatan bertahap sepanjang pekan lalu. Kenaikan tersebut menunjukkan ketahanan harga, meski pasar sebelumnya sempat menguji level support yang cukup kuat dalam beberapa pekan terakhir.
Kekhawatiran soal potensi kelebihan pasokan global tidak langsung menekan harga secara signifikan, karena pelaku pasar masih mampu mempertahankan kenaikan secara bertahap hingga akhir pekan.
Menurut Petrucci, perkembangan situasi di Iran terus menjadi perhatian utama pasar. Ketidakpastian politik di negara produsen minyak tersebut memang berpotensi memengaruhi pasokan energi global.
Namun, ia menegaskan bahwa pasokan minyak dunia secara keseluruhan masih tergolong melimpah dan tidak akan hilang secara tiba-tiba, mengingat banyak produsen global tetap memompa minyak dalam jumlah besar.
Memasuki pekan ini, aktivitas perdagangan diperkirakan kembali normal seiring berakhirnya libur Natal dan Tahun Baru. Normalisasi volume transaksi memberikan likuiditas yang lebih baik bagi pelaku pasar untuk menilai arah pergerakan harga secara teknikal.
Sejak pertengahan Desember, area USD56 kerap menjadi magnet pergerakan harga dan bahkan sempat ditembus beberapa kali, termasuk pada awal Januari lalu.
Petrucci menilai, berbagai spekulasi terkait Iran dan Venezuela akan terus mewarnai pasar minyak dalam waktu dekat. Meski demikian, kondisi tersebut belum cukup kuat untuk mendorong lonjakan harga secara tajam.
Dalam beberapa bulan terakhir, WTI masih bergerak dalam kecenderungan menurun, sehingga reli jangka pendek tetap perlu disikapi dengan hati-hati.
Ia menambahkan, peluang penguatan menuju USD60 per barel memang terbuka, terutama bagi trader jangka pendek.
Namun, tekanan ke bawah juga masih nyata, mengingat harga sempat kembali mendekati bahkan menembus level USD56 dalam waktu dekat. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa optimisme berlebihan tetap menyimpan risiko.
Untuk pekan ini, Petrucci memperkirakan rentang pergerakan WTI berada di kisaran USD56,15 hingga USD59,75 per barel.
Ia memperingatkan bahwa volatilitas berpotensi meningkat, dengan pergerakan harga yang cenderung tidak menentu, seiring pelaku pasar menyeimbangkan faktor teknikal, fundamental, serta berbagai ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi pasar energi global. (Aldo Fernando)








