148 Ribu Investor Baru Serbu Saham BUMI di Tengah Reli
IDXChannel – Emiten milik Grup Bakrie dan Grup Salim, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), kedatangan lebih dari 100 ribu pemegang saham baru selama Desember 2025. Angka itu sejauh ini menjadi penambahan bulanan terbesar di antara emiten lainnya.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), yang dirilis pada 9 Januari 2026, jumlah pemegang saham emiten BUMI bertambah 148.255 selama bulan lalu. Dus, kini BUMI memiliki 362.993 pemegang saham, terbanyak keempat di bursa di bawah BBRI (659 ribu), BBCA (578 ribu), dan GOTO (363 ribu).
Jumlah pemegang saham BUMI memang melonjak signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Tren kenaikan ini sudah terlihat sejak September 2025, dari 157.747 pemegang saham, lalu naik menjadi 191.942 pada Oktober dan 214.738 pada November.
Secara kumulatif, dalam sekitar tiga bulan terakhir, BUMI menambah sekitar 205 ribu pemegang saham, mencerminkan minat investor ritel yang terus menguat terhadap saham emiten batu bara tersebut.
Sementara itu, Grup Salim melalui Mach Energy (Hong Kong) Limited menguasai 45,78 persen saham BUMI. Kemudian, Grup Bakrie, lewat PT Bakrie Capital Indonesia bersama sejumlah perusahaan afiliasi lainnya, juga tercatat sebagai pengendali perseroan.
Lonjakan minat investor ritel tak terlepas dari reli saham BUMI dan Grup Bakrie lainnya, macam PT Darma Henwa Tbk (DEWA) hingga PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), di tengah rencana ekspansi dan akuisisi, aksi korporasi, kenaikan harga emas dunia, hingga sentimen index play atau peluang masuk ke indeks global seperti MSCI.
Saham BUMI melambung 83 persen selama sebulan terakhir dan meroket 301 persen selama setahun belakangan ke level tertinggi sejak 2017 silam, yakni Rp462 per unit per 9 Januari 2026.
Mengutip catatan UOB Kay Hian pada 19 November 2025, BUMI terus mempercepat diversifikasi bisnisnya melalui peningkatan produksi emas BRMS, pertumbuhan volume overburden removal (bcm) DEWA, serta akuisisi aset emas-tembaga Wolfram berbiaya rendah.
Selain itu, perseroan juga merambah bisnis bauksit-alumina melalui Laman Mining guna membangun portofolio usaha di luar batu bara.
Menanti MSCI
MNC Insurance Business Group Bersama MNC Peduli Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana Banjir Sumatra
Katalis lainnya adalah potensi BUMI, bersama sejumlah nama lainnya, untuk masuk ke indeks global MSCI dalam rebalancing Februari 2026.
Indo Premier, dalam riset yang terbit pada 10 Desember 2025, menyebut BUMI sebagai kandidat dengan probabilitas tertinggi untuk masuk MSCI Standard Cap.
Saat ini, kapitalisasi pasar BUMI sudah melampaui ambang batas minimum, dengan estimasi harga minimum sekitar Rp315 per saham, sementara harga terkini, pada 9 Januari 2026, berada di kisaran Rp462 per saham.
BUMI juga sudah tercatat sebagai konstituen MSCI IMI (Investible Market Indexes) dan MSCI Small Cap Index.
Meski harga saham BUMI melonjak signifikan secara bulanan hingga sekitar lebih dari 100 persen, Indo Premier menilai pergerakan tersebut masih sesuai dengan aturan MSCI extreme price increase.
Risiko baru muncul jika harga saham BUMI menembus level di atas Rp700 per unit menjelang akhir Januari 2026, yang merupakan periode peninjauan indeks.
Riset Trimegah Sekuritas juga menempatkan BUMI sebagai salah satu kandidat dengan probabilitas tertinggi untuk masuk dalam tinjauan indeks MSCI periode Februari 2026.
Mengacu pada data free float MSCI per Desember 2025, analis Trimegah menilai BUMI berpeluang memenuhi kriteria inklusi dengan porsi free float 30,19 persen, dengan catatan harga saham berada di kisaran minimal Rp277 per saham.
Penilaian tersebut didasarkan pada ambang batas kapitalisasi pasar MSCI, yakni kapitalisasi pasar free float sebesar USD2,1 miliar dan kapitalisasi penuh USD4,2 miliar, serta dengan mengecualikan emiten yang tidak lolos kriteria kelayakan MSCI.
Pandangan serupa disampaikan analis CLSA yang memproyeksikan perubahan komposisi MSCI Global Investable Market Index (GIMI) pada Quarterly Comprehensive Index Review (QCIR) Februari 2026.
Mengacu pada Watch List per 6 Januari 2026, CLSA memperkirakan saham BUMI berpeluang masuk indeks dengan potensi arus dana masuk sekitar USD78,7 juta. Hasil resmi peninjauan dijadwalkan diumumkan setelah penutupan pasar pada 10 Februari 2026. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.








