Bursa Asia Melemah di Awal Pekan, Pasar Cermati Geopolitik
IDXChannel – Bursa saham Asia cenderung terkoreksi pada Senin (19/1/2026) seiring kembali menguatnya kekhawatiran geopolitik dan perdagangan yang membebani sentimen risiko global.
Menurut data pasar, pukul 09.54 WIB, indeks saham Jepang melemah pada Senin, memperpanjang koreksi dari level tertinggi sepanjang masa.
Indeks Nikkei 225 turun 1,13 persen, sementara Topix melemah 0,47 persen.
Melansir dari Trading Economics, sentimen memburuk setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif baru terhadap delapan negara Eropa demi mendapatkan kendali atas Greenland, langkah yang memicu kritik dari para pemimpin Eropa.
Dari dalam Negeri Sakura, investor mencermati keputusan kebijakan Bank of Japan (BOJ) pekan ini. Suku bunga diperkirakan tetap, meski pasar mengantisipasi peluang perubahan kebijakan pada Juni.
China pada Senin diperkirakan melaporkan pertumbuhan ekonomi 4,4 persen secara tahunan pada kuartal hingga Desember, melambat dari 4,8 persen pada kuartal sebelumnya, karena kekuatan ekspor dan manufaktur tertahan oleh lemahnya permintaan domestik.
BOJ dijadwalkan menggelar rapat pada Jumat. Meski kenaikan suku bunga tidak diperkirakan kali ini, para pembuat kebijakan bisa memberi sinyal pengetatan paling cepat pada April.
Faktor politik domestik turut menjadi perhatian, mengingat Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi diperkirakan segera membubarkan parlemen untuk membuka jalan bagi pemilu pada Februari.
Selain Jepang, Hang Seng Hong Kong juga melorot 0,66 persen, ASX 200 Australia berkurang 0,47 persen, STI Singapura melemah 0,32 persen.
Sementara, Shanghai Composite menguat 0,27 persen dan KOSPI Korea Selatan naik 1,00 persen.
Data tertunda terkait inflasi inti dan konsumsi AS untuk November akan dirilis pada Kamis, yang akan memperjelas ekspektasi investor mengenai waktu pemangkasan suku bunga berikutnya oleh Federal Reserve (The Fed).
Futures saham AS melemah pada Senin setelah Trump mengancam mengenakan tarif tambahan pada delapan negara Eropa hingga AS diizinkan membeli Greenland.
Tekanan tersebut mendorong dolar melemah terhadap yen Jepang dan franc Swiss sebagai aset aman.
Emas dan perak melonjak ke rekor tertinggi sepanjang masa, sementara harga minyak turun di tengah kekhawatiran dampak perang dagang AS-Eropa terhadap pertumbuhan dan permintaan global.
Libur pasar saham dan obligasi AS membuat perdagangan cenderung tipis, yang turut berkontribusi pada penurunan 0,7 persen futures S&P 500 dan kejatuhan 1,0 persen futures Nasdaq. Di Eropa, futures EUROSTOXX 50 dan DAX masing-masing turun 1,1 persen.
Trump menyatakan akan mengenakan tarif impor tambahan 10 persen mulai 1 Februari terhadap barang dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris. Tarif tersebut akan dinaikkan menjadi 25 persen pada 1 Juni jika tidak tercapai kesepakatan.
Negara-negara utama Uni Eropa mengecam ancaman tarif terkait Greenland sebagai bentuk pemerasan.
Prancis mengusulkan respons berupa serangkaian langkah balasan ekonomi yang belum pernah diuji sebelumnya.
Opsi Uni Eropa mencakup paket tarif balasan atas impor AS senilai 93 miliar euro (USD108 miliar) yang sempat ditangguhkan selama enam bulan sejak awal Agustus, serta langkah-langkah di bawah Instrumen Anti-Pemaksaan yang dapat menyasar perdagangan jasa atau investasi AS.
Analis Deutsche Bank mencatat negara-negara Eropa memiliki aset obligasi dan saham AS senilai USD8 triliun, hampir dua kali lipat kepemilikan kawasan lain di dunia, dan tidak menutup kemungkinan sebagian dana tersebut dipulangkan ke dalam negeri. (Aldo Fernando)









