Apindo Ingatkan Kelangkaan Lapangan Kerja Bakal Pengaruhi Pertumbuhan Ekonomi
IDXChannel - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menekankan dinamika dalam dunia usaha berperan andil dalam capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sehingga, setiap indikator makro yang berkelindan dunia bisnis mesti dimaknai sebagai tantangan ekonomi.
Shinta mewanti-wanti tantangan utama menyoal ketersediaan lapangan kerja. Sebab, selama ini masalah latennya adalah keterbatasan pekerjaan di tengah masifnya angkatan kerja lulusan pendidikan lintas tingkatan.
"Tidak mudah mendapatkan pekerjaan hari-hari ini. Kalau kita buka bursa pekerjaan, itu yang ngantri ribuan untuk pekerjaan yang jumlahnya sangat terbatas," kata Shinta dalam diskusi bertajuk Economic Insight 2026: Unlocking Indonesia's Hidden Engine of Growth, yang digelar di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Menurut Shinta, dominasi pekerjaan yang tersedia di sektor informal, alih-alih pekerjaan formal. Jumlah lapangan kerja di sektor informal tembus lebih dari 50 persen, dan terus menanjak. Karakteristik pekerjaan informal mesti dipandang sebagai sebuah isu ekonomi bagi pemerintah.
"Yang perlu dikhawatirkan ini adalah sektor informal, karena mereka tidak mendapatkan, pendapatan yang konsisten," ujar Shinta.
Lantas, kata dia, konsentrasi angkatan kerja yang banyak ke sektor informal tertuju pula ke bisnis UMKM. Beralihnya pencari kerja menjadi pelaku usaha menjadi kondisi yang sah-sah saja. Tapi, bagaimana bisnis tersebut mampu bertahan dan berkembang, menjadi persoalan lain yang mesti diperhatikan pemangku kepentingan.
Shinta juga menyoroti soal iklim investasi untuk menggenjot lapangan pekerjaan yang masih terbatas. Hal ini dipengaruhi oleh era digitalisasi dan otomasi sehingga penyerapan tenaga kerja di ranah industri ikut menurun dari waktu ke waktu.
"Jadi kita kalau lihat investasi yang masuk, sudah lebih banyak ke yang namanya capital intensive, tidak ada lagi di labor intensive, gitu. Jadi ini shifting penyerapannya yang turun hampir seperempat 10 tahun terakhir, ini jelas menjadi perhatian," kata Shinta.
(NIA DEVIYANA)










