Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11 persen di 2025, BCA Sekuritas: Prospek 2026 Dibayangi Risiko Global

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11 persen di 2025, BCA Sekuritas: Prospek 2026 Dibayangi Risiko Global

Terkini | idxchannel | Minggu, 8 Februari 2026 - 15:54
share

IDXChannel – Kinerja ekonomi Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan daya tahan yang relatif kuat di tengah ketidakpastian global. Berdasarkan riset BCA Sekuritas yang mengutip data Trading Economics, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,11 persen pada 2025, sedikit di bawah target pemerintah 5,2 persen, tetapi lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 5,03 persen pada 2024. Angka ini juga menjadi laju pertumbuhan tercepat sejak 2022.

Mengutip data riset BCA Sekuritas yang tertera pada laman BCA Sekuritas, Minggu (8/2/2026), BCA Sekuritas menilai akselerasi pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tetap resilien, tumbuh 4,98 persen di tengah berbagai stimulus pemerintah dan tren penurunan suku bunga. Di sisi lain, investasi tetap juga menunjukkan penguatan dengan pertumbuhan 5,09 persen, mencerminkan berlanjutnya aktivitas belanja modal meski menghadapi tantangan eksternal.

Dari sisi perdagangan, kinerja ekspor Indonesia menguat signifikan dengan pertumbuhan 7,03 persen meskipun Amerika Serikat memberlakukan tarif baru. Hal ini menunjukkan daya saing ekspor Indonesia yang relatif terjaga. Sebaliknya, impor hanya tumbuh 4,77 persen, melambat tajam dibanding periode sebelumnya, seiring dengan pelemahan permintaan domestik dan depresiasi nilai tukar rupiah.

Ke depan, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen pada 2026. Bank Indonesia (BI) sendiri memproyeksikan pertumbuhan berada dalam rentang 4,9 persen–5,7 persen, mengindikasikan sikap optimistis namun tetap berhati-hati terhadap risiko eksternal seperti perlambatan ekonomi global dan volatilitas pasar keuangan.

Dalam perkembangan terpisah, BCA Sekuritas juga menyoroti langkah Moody’s yang pada 5 Februari 2026 merevisi outlook utang negara Indonesia dari stabil menjadi negatif, meskipun tetap mempertahankan peringkat kredit Baa2 (investment grade). Moody’s menilai adanya risiko terkait prediktabilitas kebijakan dan tata kelola yang berpotensi mengurangi efektivitas kebijakan publik.

Meski demikian, Moody’s tetap mengakui fundamental ekonomi Indonesia yang ditopang oleh kekayaan sumber daya alam, bonus demografi, serta pengelolaan fiskal dan moneter yang relatif prudent. Lembaga pemeringkat ini masih memperkirakan pertumbuhan ekonomi jangka menengah sekitar 5 persen, defisit fiskal terjaga di bawah 3 persen dari PDB, serta rasio utang yang tetap lebih rendah dibanding negara berperingkat Baa lainnya.

Namun, Moody’s juga menegaskan bahwa basis penerimaan negara yang masih lemah menjadi kendala utama dalam memperluas ruang fiskal pemerintah. Hal ini berpotensi membatasi kemampuan negara dalam merespons tekanan ekonomi di masa depan.

Secara keseluruhan, riset BCA Sekuritas menilai bahwa ekonomi Indonesia berada pada jalur pertumbuhan yang relatif solid, tetapi tantangan struktural dan risiko eksternal tetap perlu diwaspadai agar target pertumbuhan jangka menengah dapat tercapai secara berkelanjutan.

(Shifa Nurhaliza Putri)

Topik Menarik