Apa Itu Nutri-Level? Sistem Pelabelan Baru untuk Makanan dan Minuman, Ini Cara Kerjanya

Apa Itu Nutri-Level? Sistem Pelabelan Baru untuk Makanan dan Minuman, Ini Cara Kerjanya

Terkini | idxchannel | Jum'at, 17 April 2026 - 19:10
share

IDXChannel—Apa itu nutri-level? Kementerian Kesehatan meluncurkan kebijakan sistem pelabelan nutri-level untuk membantu konsumen memahami kandungan nutrisi utama pada makanan dan minuman kemasan. 

Ini adalah upaya pemerintah untuk mendorong masyarakat agar lebih sadar terhadap pola konsumsi harian, menyusul peningkatan kasus penyakit tidak menular yang disebabkan oleh konsumsi berlebihan. 

Contoh penyakit yang dimaksud antara lain diabetes hingga hipertensi. Sebagian besar penyakit tidak menular karena konsumsi berlebihan ini dipicu oleh konsumsi gula, garam, dan lemak secara berlebihan. 

Sistem nutri-level ini diharapkan membantu masyarakat untuk memahami kandungan nutrisi dengan pelabelan yang lebih sederhana. Sebelumnya, tiap produk makanan dan minuman kemasan mencantumkan kandungan gizi per sajian, tetapi sistem ini dinilai masih rumit dipahami. 

Apa Itu Nutri-Level?

Nutri-level adalah sistem penilaian atau pelabelan gizi pada kemasan produk pangan yang menunjukkan kualitas nutrisi secara ringkas. Biasanya ditampilkan dalam bentuk kode warna, huruf, atau skor tertentu, sehingga konsumen bisa dengan cepat menilai apakah suatu produk tergolong sehat atau sebaliknya.

Konsep ini mengadopsi pendekatan yang sudah diterapkan di beberapa negara dan didukung oleh organisasi kesehatan global seperti World Health Organization, yang mendorong transparansi informasi gizi bagi masyarakat.

Nutri-level membantu masyarakat memahami kandungan gizi tanpa harus membaca label yang rumit. Dengan informasi yang lebih jelas, masyarakat diharapkan bisa membatasi konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak.

Dengan kebijakan Nutri Level ini, produsen makanan akan terdorong untuk memperbaiki komposisi produknya agar mendapat nilai nutri-level yang lebih baik.

Bagaimana Cara Kerjanya?

Nutri-level biasanya bekerja dengan sistem penilaian berdasarkan kandungan nutrisi utama, seperti gula, garam (natrium), lemak jenuh, kalori total, serat dan protein (sebagai nilai tambah).

Produk kemudian diberi skor atau kategori tertentu, biasanya menggunakan huruf A-B-C-D, dengan kategori ‘paling sehat’ hingga ‘perlu dibatasi.’ Semakin baik komposisi gizinya, semakin tinggi nilai nutri-level yang diberikan.

Penerapan nutri-level diharapkan membawa perubahan besar dalam kebiasaan konsumsi masyarakat Indonesia. Dengan informasi yang lebih transparan dan mudah dipahami, masyarakat bisa lebih selektif memilih makanan, mengurangi risiko penyakit kronis, dan membangun pola makan yang lebih seimbang.

Namun, keberhasilan kebijakan ini tetap bergantung pada edukasi yang masif dan kesadaran masyarakat untuk benar-benar memanfaatkannya.


(Nadya Kurnia)

Topik Menarik