Beban Subsidi Energi Diperkirakan Membengkak pada 2027

Beban Subsidi Energi Diperkirakan Membengkak pada 2027

Terkini | idxchannel | Selasa, 16 Juni 2026 - 07:54
share

IDXChannel - Beban subsidi energi berpotensi mengalami pembengkakan pada 2027. Hal itu diungkapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat memaparkan asumsi dasar sektor ESDM dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.

Pemerintah pun mengusulkan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) pada kisaran USD70 hingga USD95 per barel.

Adapun penyebab kemungkinan melonjaknya subsidi energi didorong tingginya harga minyak dunia, pelemahan nilai tukar rupiah, serta tingginya kebutuhan energi bersubsidi di dalam negeri.

Kombinasi faktor tersebut diperkirakan meningkatkan kebutuhan anggaran subsidi energi, terutama subsidi listrik yang diproyeksikan mencapai Rp113,45 triliun hingga Rp122,83 triliun pada 2027. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan realisasi subsidi listrik pada 2025 yang sebesar Rp87,46 triliun dan alokasi dalam APBN 2026 sebesar Rp100,83 triliun.

Selain subsidi listrik, pemerintah juga tetap mempertahankan berbagai skema subsidi energi lainnya. Volume BBM bersubsidi pada 2027 diperkirakan mencapai 19,343 juta hingga 19,561 juta kiloliter (KL), meningkat dibandingkan realisasi 2025 yang sebesar 18,92 juta KL, maupun target di 2026 sebesat 19,17 juta KL. 

Dari jumlah tersebut, konsumsi minyak solar bersubsidi diperkirakan mendominasi dengan volume mencapai 18,80 juta hingga 19 juta KL, sedangkan minyak tanah diproyeksikan berada pada kisaran 543 ribu hingga 561 ribu KL.

Sementara itu, volume LPG tabung 3 kilogram dipertahankan sebesar 8 juta metrik ton, sama dengan target APBN 2026. Pemerintah juga masih mempertahankan subsidi tetap minyak solar sebesar Rp1.000 per liter.

"Sebelum terjadi ketegangan di Timur Tengah, itu total subsidi kita untuk LPG itu USD80-USD87 triliun per tahun, sekarang akan naik lagi (subsidinya), karena harga ICP naik," kata Bahlil dalam Raker Bersama Komisi XII DPR RI, Senin (15/6/2026).

Di sisi lain, pemerintah menargetkan peningkatan produksi migas dalam RAPBN 2027, lifting migas ditargetkan berada pada kisaran 1,536 juta hingga 1,592 juta barel setara minyak per hari (BOEPD), lebih tinggi dibandingkan realisasi hingga Mei 2026 yang mencapai 1,473 juta BOEPD.

Untuk mendukung target tersebut, pemerintah memperkirakan kebutuhan cost recovery migas pada 2027 mencapai USD10,1 miliar hingga USD11,5 miliar, naik dibandingkan realisasi 2025 sebesar USD8,46 miliar.

(NIA DEVIYANA)

Topik Menarik