BBCA Dinilai Jadi Bank Besar Paling Defensif
IDXChannel – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dinilai masih menjadi bank besar paling defensif di Indonesia berkat fundamental bisnis yang relatif kuat dibandingkan para pesaingnya.
Dalam catatan risetnya, melansir dari Dow Jones Newswires, Selasa (16/6/2026), analis DBS Group Research menyebut BCA memiliki keunggulan dari sisi basis pendanaan yang lebih kuat, terutama ditopang oleh rasio dana murah atau current account and savings account (CASA) yang menjadi salah satu yang tertinggi di industri perbankan.
CASA merupakan metrik penting yang mencerminkan kemampuan bank menghimpun dana berbiaya rendah, sehingga mendukung profitabilitas.
Meski pertumbuhan kredit BCA dalam lima bulan pertama 2026 tercatat lebih lambat dibandingkan panduan perusahaan, kinerja perseroan tetap menunjukkan ketahanan. Hal ini didukung oleh pertumbuhan pendapatan berbasis komisi (noninterest income), terutama dari peningkatan aktivitas valuta asing dan perdagangan.
DBS menilai kemampuan BCA dalam menjaga margin dan profitabilitas masih cukup kuat, berkat struktur biaya dana yang rendah.
Atas pertimbangan tersebut, DBS mempertahankan rekomendasi beli (buy) untuk saham BCA dengan target harga Rp8.000 per unit.
Di pasar reguler, Rabu (17/6/2026), pukul 09.20 WIB, saham BBCA menguat 3,98 persen ke Rp6.525 per unit, menguat 6 hari beruntun atau setara dengan 26,70 persen dalam sepekan.
Penguatan tajam belakangan ini terjadi usai BBCA mengalami outflow asing yang deras yang turut menekan harga saham hingga ke level terendah sejak akhir Mei 2020.
Sebelumnya, analis Sinarmas Sekuritas Yosua Zisokhi performa BBCA yang dinilai menjadi salah satu indikator penting dalam fase pemulihan pasar saat ini.
“Saat IHSG rebound setelah mengalami tekanan jual yang ekstrem, maka wajar jika investor institusi akan berbondong bondong masuk ke saham blue chip yang salah harga. Saham perbankan seperti BBCA, BBNI, BMRI dan BBRI menjadi salah pilihan utama karena memiliki kinerja keuangan yang sangat baik, fundamental kuat dan konsisten membagi dividen,” katanya.
Meski demikian, Yosua mengingatkan bahwa volatilitas pasar masih berpotensi tinggi. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.








