Apindo Sebut PMI Manufaktur RI Turun Imbas Pelemahan Permintaan Global dan Lonjakan Biaya

Apindo Sebut PMI Manufaktur RI Turun Imbas Pelemahan Permintaan Global dan Lonjakan Biaya

Terkini | idxchannel | Selasa, 7 Juli 2026 - 16:34
share

IDXChannel - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyoroti penurunan Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis S&P ke level 46,9 atau turun dari 50,0 pada Mei 2025.

Kalangan pengusaha menilai bahwa situasi ini merupakan dampak langsung dari kontraksi permintaan di pasar global serta membengkaknya biaya operasional di sektor hulu industri domestik.

"Ini kelihatan memang sinyal pelemahan kalau kita lihat dari segi demand. Dengan kondisi geopolitik yang ada, secara global memang demand mengalami penurunan karena masih ada ketidakpastian," ujar Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani, saat ditemui di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Shinta menjabarkan bahwa ketidakpastian geopolitik global melahirkan sentimen negatif yang menahan laju transaksi perdagangan antarnegara. Meskipun sempat muncul harapan pemulihan melalui berbagai kesepakatan dagang internasional, penyelesaian konflik yang belum tuntas di lapangan terus memicu volatilitas pasar yang berkepanjangan.

Tekanan geopolitik yang belum mereda di beberapa kawasan dunia terus memberikan dampak berantai terhadap kelancaran arus perdagangan global. Akibatnya, kinerja ekspor nasional mengalami koreksi negatif akibat ketidakstabilan pasar luar negeri.

"Walaupun ada tanda-tanda kesepakatan tapi sampai kini masih ada permasalahan sehingga masih ada volatilitas. Jadi di sinilah menurut kami faktor konflik mempengaruhi dan ekspor juga menurun neracanya. ini menjadi salah satu sebab PMI manufaktur menurun," lanjut Shinta.

Di samping tekanan dari faktor eksternal, para pelaku industri manufaktur di dalam negeri juga harus berhadapan dengan tantangan berat dari sisi rantai pasok dalam negeri. Kenaikan harga bahan baku impor dan melambungnya tarif logistik domestik secara simultan menggerus margin keuntungan para produsen nasional.

Selain kendala serapan pasar, sektor manufaktur dalam negeri juga dihadapkan pada pembengkakan beban operasional yang kian tidak terkendali. Kombinasi antara tingginya biaya input produksi dan lesunya permintaan global secara otomatis menekan ekspansi industri domestik.

"Dari segi supply, biaya usaha juga terus meningkat mulai dari logistik, bahan baku, ini banyak kenaikan. Dengan demand yang lemah, PMI manufaktur pasti melemah juga," tutur Shinta.

(Febrina Ratna Iskana)

Topik Menarik