Steven Gerrard Ungkap Rivalitas Beracun, Biang Gagalnya Generasi Emas Timnas Inggris

Steven Gerrard Ungkap Rivalitas Beracun, Biang Gagalnya Generasi Emas Timnas Inggris

Olahraga | inews | Senin, 12 Januari 2026 - 18:00
share

LONDON, iNews.id – Steven Gerrard membongkar penyebab utama kegagalan Golden Generation Timnas Inggris. Generasi bertabur bintang yang tak pernah mempersembahkan trofi sejak Piala Dunia 1966.

Pada awal 2000-an, Inggris memiliki skuad impian berisi Paul Scholes, Frank Lampard, Rio Ferdinand, John Terry, Wayne Rooney, dan Gerrard sendiri. Di atas kertas, komposisi tersebut dinilai cukup untuk mendominasi sepak bola dunia.

Namun realitas berbicara lain. Pergantian pelatih tak pernah mampu menyatukan kekuatan besar itu menjadi tim utuh. Persaingan klub justru merembes ke ruang ganti tim nasional.

Lampard, Ferdinand, dan Gerrard datang dengan identitas klub berbeda. Loyalitas terhadap Chelsea, Manchester United, dan Liverpool terbawa ke pemusatan latihan Inggris, memicu jarak emosional antarpemain.

Rio Ferdinand mengakui kondisi tersebut pada 2017 saat bekerja di BT Sport. Dia mengungkap hubungannya dengan Lampard merenggang sejak keduanya membela klub rival.

“Kami tumbuh bersama di West Ham, melakukan segalanya seperti sahabat. Saya pindah ke Leeds lalu Manchester United, Frank ke Chelsea, sejak itu komunikasi kami hancur,” ujar Ferdinand.

“Itu karena obsesi menang. Saya tidak mau Frank punya keunggulan. Hal yang sama terjadi dengan Stevie. Saat bersaing di Premier League, saya tidak mau duduk minum bir dengannya karena tak ingin mendengar kabar Liverpool. Menurut saya, itu yang menahan kami," tuturnya.

Gerrard Akui Pura-pura Suka Rekan Timnas

Gerrard menguatkan pernyataan tersebut. Dia menyebut hubungan di Timnas Inggris lebih dilandasi rasa hormat, bukan kedekatan. Bahkan, dia terang-terangan mengaku menyimpan rasa benci pada dua rekan setim.

Dua sosok itu adalah Rio Ferdinand dan Gary Neville, dua pilar Manchester United. Sebagai pemain Liverpool sejati, Gerrard sulit menerima keberadaan rival abadi di ruang ganti.

“Ketika berdiri di terowongan melawan Rio dan Gary Neville, kamu ingin mengalahkan mereka dengan segala cara. Ada kebencian di sana, memang seperti itu adanya,” kata Gerrard dalam acara Steven Gerrard Live di Belfast pada 2016.

“Saat berkumpul di Timnas, kamu pura-pura suka. Karier selesai, baru persahabatan dimulai. Saya sangat menghormati Rio sebagai pemain dan pribadi. Saya menikmati bekerja dengannya di BT," ujarnya.

Kondisi internal tersebut berdampak langsung ke prestasi. Inggris selalu tersingkir di perempat final Piala Dunia era 2000-an dan terhenti di 16 besar pada 2010 setelah kalah dari Jerman.

Pukulan terberat terjadi saat Inggris gagal lolos ke Euro 2008. Tim asuhan Steve McClaren tersingkir di fase kualifikasi usai kalah 2-3 dari Kroasia, hasil yang dianggap memalukan.

Gerrard mengakui penyesalan besar terhadap karier internasionalnya. Pada 2020, dia menyebut Inggris memiliki kualitas cukup untuk melangkah lebih jauh.

“Saya melihat foto skuad itu, kami punya pemain luar biasa. Kami sempat dekat di adu penalti dan mungkin layak mendapat lebih banyak respek. Tapi tak bisa dipungkiri, kami tampil di bawah kemampuan,” tutup Gerrard.

Topik Menarik