Mantan Pemain Top Iran Ditembak Mati Saat Demonstrasi, Dunia Sepak Bola Berduka!
TEHEREAN, iNews.id – Mantan bek Tractor S.C., Mojtaba Tarshiz, tewas ditembak bersama istrinya oleh aparat keamanan Iran di tengah gelombang protes anti-pemerintah yang mengguncang seluruh negeri.
Protes di Iran telah menyebar ke 31 provinsi, menjadi gelombang ketidakpuasan terbesar terhadap rezim dalam beberapa tahun terakhir. BBC melaporkan lebih dari 2.000 orang tewas akibat penindakan brutal aparat keamanan terhadap demonstran.
Mojtaba Tarshiz, 47 tahun, yang sebelumnya membela beberapa klub papan atas Iran termasuk Nasaji Mazandaran, Tractor Tabriz, Fajr Sepasi Shiraz, dan Mes Kerman, meninggalkan dua anak. Tarshiz bermain sebagai bek kanan dan tercatat 73 kali tampil untuk Tractor S.C., juara Persian Gulf Pro League 2024/25.
Media Azerbaijan, Sports News, menyebut Tarshiz dan istrinya ditembak pada 8 Januari saat protes berlangsung. Kematian mereka memicu shock besar di masyarakat Iran, terutama komunitas olahraga.
Di tempat yang sama, Mehdi Lavasani, pelatih kepala tim amatir Mahan Novin di distrik Narmak, Teheran, mengalami luka serius akibat tembakan yang menembus punggungnya dan keluar melalui dada. Kondisi terkini Lavasani belum jelas karena tidak ada pernyataan resmi.
Protes ini dipicu oleh inflasi tinggi dan kemarahan publik terhadap rezim, yang telah berlangsung lebih dari dua minggu dan menyebar ke lebih dari 180 kota di seluruh Iran. Sejumlah tokoh olahraga lainnya juga dilaporkan cedera atau tewas dalam kerusuhan ini.
Situasi politik menambah ketidakpastian bagi sepak bola Iran, termasuk persiapan menuju Piala Dunia 2026. Dengan larangan perjalanan dari beberapa negara termasuk Iran, penggemar dan pemain menghadapi tantangan besar untuk mengikuti turnamen musim panas nanti.
Presiden AS, Donald Trump, menanggapi peristiwa ini dengan mengancam tindakan terhadap pihak berwenang Iran. Trump menulis di platform Truth Social bahwa Iran akan “membayar harga besar” atas kematian demonstran dan menegaskan, "BANTUAN SEDANG DALAM PERJALANAN."
Kasus Tarshiz menyoroti risiko yang dihadapi tokoh olahraga di tengah krisis politik Iran dan membuka perhatian dunia pada kondisi hak asasi manusia yang memburuk di negeri itu. Dunia sepak bola internasional kini menyoroti tragedi ini sebagai salah satu peristiwa paling mengerikan yang menimpa atlet di tengah konflik sipil.









