Miris! Cuma 5 Orang Indonesia yang Makan Sayur dan Buah
JAKARTA, iNews.id - Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) mengeluarkan data cukup mengejutkan soal kebiasaan hidup sehat masyarakat Indonesia, khususnya makan buah dan sayur. Faktanya, masih sangat sedikit yang mengonsumsi buah dan sayur.
Menurut data PERSAGI, sejak 2007 hingga sekarang, angka konsumsi buah dan sayur masyarakat Indonesia itu masih sangat rendah. Padahal, Indonesia kaya akan buah dan sayur, pun mudah didapat di mana-mana.
"Pedoman gizi seimbang itu kan jelas. Tapi edukasi gizi itu tidak mudah. Kita punya pepaya, mangga, alpukat di pasar, tapi konsumsi buah dan sayur sejak 2007 itu rendah, cuma sekitar 5 persen," kata Ketua Umum DPP PERSAGI Doddy Izwardy dalam keterangan resminya, dikutip Minggu (25/1/2026).
Ia mencontohkan, meski banyak masyarakat bisa menanam pepaya atau singkong, tetap saja tidak semua mau mengonsumsi buah dan sayur secara rutin. Bahkan dalam pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG), masih ditemukan buah dan sayur yang terbuang karena tidak dimakan.
Romantis! Happy Asmara Auto Baikan usai Dapat Kejutan di DMD Panggung Rezeki MNCTV Channel 29
“Padahal buah dan sayur itu sumber vitamin dan mineral. Kita harus biasakan lihat ‘isi piringku’, berapa persen karbohidrat, berapa persen protein, vitamin, dan mineralnya. Ini soal perubahan perilaku,” tegasnya.
Menurut Doddy, di sinilah peran ahli gizi menjadi sangat penting, termasuk dalam menyusun perencanaan menu, menghitung kebutuhan protein seperti telur, serta memastikan keseimbangan gizi dalam satu hari, bukan hanya satu kali makan.
Nah, sebagai salah satu upaya meningkatkan edukasi gizi, PERSAGI menggelar lomba Presentasi Edukasi Gizi yang digelar Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Jakarta II bersama Ikatan Alumni Gizi 1971–1972 yang diikuti mahasiswa Prodi Diploma III Gizi serta Prodi Sarjana Terapan dan Dietetika.
Acara ini juga dihadiri alumni gizi angkatan 1971 dan 1972, Ketua DPP PERSAGI, serta Direktur Poltekkes Kemenkes Jakarta II.
Hari Gizi Nasional yang diperingati setiap 25 Januari menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan peran gizi dalam menunjang kesehatan, produktivitas, dan kualitas SDM.
Pada HGN ke-66, persoalan gizi masih menjadi perhatian besar, mulai dari stunting, gizi kurang, anemia, obesitas, hingga meningkatnya penyakit tidak menular.
Melalui lomba ini, mahasiswa didorong tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menyampaikan pesan gizi secara komunikatif, persuasif, dan berbasis bukti ilmiah, sekaligus menangkal hoaks di era banjir informasi digital. Upaya ini dinilai sejalan dengan tema HGN 2026, yakni 'Gizi Optimal Mewujudkan Generasi Emas 2045' serta tema Kemenkes RI 'Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal.'










