Obat Crestor dan Lipitor di Indonesia Lebih Mahal dibanding Malaysia, Menkes Bongkar Faktanya!
JAKARTA, iNews.id – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti tingginya harga sejumlah obat di Indonesia yang dinilai tidak wajar jika dibandingkan dengan Malaysia. Bahkan, beberapa obat disebut bisa dijual hingga beberapa kali lipat lebih mahal di dalam negeri.
Menkes Budi mencontohkan obat kolesterol Crestor dan Lipitor yang menurutnya memiliki selisih harga mencolok antara Indonesia dan Malaysia.
"Coba beli Crestor atau Lipitor di Malaysia, lalu bandingkan dengan yang ada di Indonesia, bedanya bisa 3 kali, 5 kali (lebih mahal di Indonesia)," kata Menkes Budi dalam acara penandatanganan nota kesepahaman antara Kementerian Kesehatan dan Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta, belum lama ini.
"Orang selalu bilang alasannya pajak, padahal pajak cuma 15–20," tambahnya.
Menurut Menkes Budi, perbedaan harga yang mencapai ratusan persen tidak mungkin hanya dipengaruhi faktor pajak. Dia menilai ada persoalan lain dalam struktur industri kesehatan yang membuat harga obat menjadi jauh lebih mahal.
"Kalau karena pajak, paling beda harganya 20 sampai 30 persen, tidak sampai 500 persen," ujarnya.
Menkes menduga mahalnya harga obat berkaitan dengan struktur harga dan rantai distribusi di industri kesehatan. Selain itu, perilaku para pemangku kepentingan dalam ekosistem kesehatan juga dinilai ikut memengaruhi pembentukan harga obat di pasaran.
Ekosistem tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari perusahaan farmasi, rumah sakit, dokter, hingga penyedia asuransi kesehatan. Karena itu, pemerintah menilai perlu ada pembenahan agar sistem penetapan harga obat menjadi lebih transparan dan efisien.
Untuk menata kembali sistem tersebut, Kementerian Kesehatan menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi guna membantu memperbaiki tata kelola industri kesehatan dan mencegah potensi praktik yang merugikan masyarakat.










