Filipina Darurat Energi: Banyak Pesawat Tak Bisa Terbang karena Harga Bahan Bakar Naik 100

Filipina Darurat Energi: Banyak Pesawat Tak Bisa Terbang karena Harga Bahan Bakar Naik 100

Terkini | inews | Rabu, 25 Maret 2026 - 03:01
share

MANILA, iNews.id - Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr mengumumkan keadaan darurat energi nasional, Selasa (24/3/2026), dampak dari perang Timur Tengah. Salah satu pengaruh dari kurangnya pasokan bahan bakar serta kenaikan harganya yang signifikan, Filipina akan mengandangkan banyak pesawat komersial.

Usai mengumumkan keadaan darurat, Marcos memperingatkan, penghentian operasional pesawat karena kekurangan bahan bakar jet akan menjadi kenyataan.

Beberapa negara menolak untuk mengisi bahan bakar pesawat maskapai Filipina. Kondisi tersebut memaksa perusahaan untuk mengisi bahan bakar ekstra untuk penerbangan pergi-pulang.

Kondisi tersebut akan berdampak parah pada penerbangan jarak jauh.

"Kami sebenarnya berharap tidak (terjadi), tapi ini adalah kemungkinan yang nyata," kata Marcos, kepada Bloomberg.

Maskapai penerbangan berongkos rendah Cebu Pacific mengumumkan penangguhan rute sementara dan pengurangan frekuensi selama periode April hingga Oktober 2026. Alasannya, harga bahan bakar jet saat ini naik lebih dari dua kali lipat atau 100 persen lebih dibandingkan rata-rata pada 2025.

Disebutkan biaya tambahan bahan bakar untuk pemesanan 1-15 April mencapai Level 8, sehingga memaksa maskapai untuk menaikkan tarif penerbangan domestik menjadi 787 peso dan internasional hingga 6.208,98 peso.

Untuk mengatasi tekanan pasokan, Filipina mengimpor minyak mentah Rusia untuk pertama kalinya sejak 5 tahun. Kapal tanker Sara Sky, yang membawa 100.000 ton atau 750.000 barel minyak ESPO Blend dari Kozmino, dalam pelayaran menuju terminal Petron di Bataan, Limay, dan diperkirakan tiba pada 23 atau 25 ​​Maret. Filipina bisa membeli minyak Rusia berdasarkan pengecualian sanksi AS, namun hanya berlaku hingga 11 April.

Petron, kilang minyak terbesar Filipina, dimiliki masing-masing 40 persen oleh Philippine National Oil Company dan 20 persen Saudi Aramco.

Topik Menarik