Kegagalan Italia ke Piala Dunia 2026 Picu Krisis Besar, Gattuso di Ujung Tanduk
ZENICA, iNews.id – Italia gagal melaju ke Piala Dunia 2026 setelah kalah 0-1 dari Bosnia dan Herzegovina pada final play-off di Zenica, Rabu (1/4/2026) dini hari WIB. Ini menimbulkan krisis besar bagi sepakbola Negeri Pizza.
Media Italia menyebut kekalahan ini sebagai “Third Apocalypse”, tragedi ketiga secara berturut-turut yang membuat Azzurri gagal tampil di turnamen terbesar dunia.
Kegagalan ini menambah daftar panjang Italia yang absen di Piala Dunia setelah 2018 di bawah Giampiero Ventura dan 2022 di bawah Roberto Mancini.
Italia sempat unggul lewat gol Moise Kean, namun momentum berubah ketika Alessandro Bastoni menerima kartu merah langsung menjelang turun minum.
Sejak kemenangan Euro 2020, Italia belum mampu tampil konsisten. Mereka belum bermain di Piala Dunia sejak 2014 dan terakhir menang di babak gugur pada 2006, saat mengangkat trofi.
Kegagalan ini menimbulkan pertanyaan besar soal kelanjutan kepelatihan Gennaro Gattuso. Media Italia menilai sulit membayangkan tim nasional bisa memulai ulang dengan pelatih yang memimpin mereka pada kekalahan besar ini.
“Rino gagal di pertandingan paling penting. Tidak adil menyalahkan hanya dia, Ventura, Mancini, dan Spalletti juga gagal sebelumnya,” tulis Gazzetta.
Saat ini belum ada keputusan resmi soal Gattuso. Presiden FIGC, Gabriele Gravina, dan Kepala Delegasi, Gianluigi Buffon, menegaskan mereka tidak akan mundur. Namun, Gazzetta menekankan perlunya langkah luar biasa untuk membangun kembali sistem sepakbola Italia.
“Kita harus membangun sektor muda, mengatur regulasi untuk melindungi pemain Italia. Butuh waktu, orang tepat, dan ide tepat. Tetapi kita tidak bisa menunggu lagi. Generasi muda yang belum pernah melihat Italia di Piala Dunia akan terus tumbuh,” tulis media Italia menutup analisanya.
Kekalahan ini menandai periode kritis bagi Azzurri, yang kini menghadapi tekanan untuk reformasi internal dan kebangkitan di panggung internasional. Tanpa langkah strategis, Italia berisiko kehilangan relevansi di level dunia untuk beberapa generasi mendatang.










