Gempa Susulan M 3,8 Guncang Adonara Flores Timur NTT, Anak-Anak Menangis Histeris
ADONARA, iNews.id – Gempa bumi susulan dengan kekuatan Magnitudo 3,8 kembali mengguncang Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (10/4/2026) siang. Meski berkekuatan menengah, guncangan ini memicu kepanikan luar biasa bagi warga yang masih bertahan di tenda-tenda pengungsian.
Suasana mencekam terlihat di Desa Terong, salah satu wilayah terdampak. Anak-anak yang sedang berada di dalam tenda pengungsian tampak menangis histeris dan memeluk orang tua mereka karena trauma dengan guncangan yang terjadi secara tiba-tiba.
Detik-detik terjadinya gempa membuat warga yang berada di dalam bangunan maupun tenda swadaya berhamburan menyelamatkan diri ke area terbuka. Ketakutan warga bukan tanpa alasan, pasalnya rentetan gempa susulan masih terus menghantui wilayah tersebut dalam beberapa waktu terakhir.
"Baru saja terjadi gempa lagi, kami semua lari panik. Anak-anak langsung takut dan menangis histeris di dalam tenda. Mereka sangat trauma karena gempa terus-menerus terjadi," ujar salah seorang warga Desa Terong, Nursiti, Jumat (10/4/2026).
Kondisi psikologis anak-anak di pengungsian kini menjadi perhatian serius. Guncangan siang tadi menambah daftar panjang trauma yang dialami warga Pulau Adonara. Suara tangisan anak-anak pecah di setiap sudut tenda sesaat setelah getaran berhenti.
Warga mengaku lebih memilih bertahan di luar rumah dengan membangun tenda seadanya menggunakan terpal. Mereka enggan kembali ke dalam bangunan permanen karena khawatir akan adanya gempa susulan yang lebih besar yang dapat merobohkan bangunan.
Hingga kini, warga di Desa Terong dan sekitarnya masih bersiaga di luar rumah.
Banyak warga yang mulai merasakan kelelahan secara fisik dan mental akibat terus berjaga-jaga.
Pemerintah daerah dan pihak terkait diimbau untuk segera memberikan bantuan pendampingan psikologis (trauma healing), terutama bagi anak-anak di Pulau Adonara agar trauma yang dialami tidak berkepanjangan. Selain itu, kebutuhan logistik di tenda-tenda swadaya warga juga mulai menipis seiring bertambahnya waktu pengungsian.










