Tanpa Insentif, Data Menunjukkan Pasar Motor Listrik di Indonesia Ambruk
JAKARTA, iNews.id – Penjualan sepeda motor listrik di Indonesia pada 2025 mengalami penurunan signifikan dibandingkan dua tahun sebelumnya. Data yang dipaparkan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menunjukkan penjualan motor listrik hanya 55.059 unit.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan 2024 yang mencapai 77.078 unit dan 2023 sebesar 62.409 unit. Penurunan ini menjadi sorotan karena sebelumnya tren kendaraan listrik terus menunjukkan peningkatan signifikan.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kemenperin, Setia Diarta mengatakan perlambatan ini tidak lepas dari faktor insentif yang mulai berkurang.
“Penjualan sepeda motor listrik di 2025 sebesar 55.059 unit mengalami penurunan dibandingkan dengan penjualan tahun 2023 dan 2024,” ujarnya dalam diskusi di Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Berdasarkan paparan tersebut, tingkat penetrasi kendaraan listrik roda dua sempat naik hingga sekitar 1,20 persen pada 2024. Namun pada 2025, angkanya turun menjadi sekitar 0,86 persen, menandakan adanya perlambatan adopsi di masyarakat.
Sementara itu, penjualan sepeda motor konvensional atau internal combustion engine (ICE) masih mendominasi pasar. Jumlahnya berada di kisaran lebih dari 6 juta unit per tahun dalam periode 2019 hingga 2025, jauh melampaui kontribusi motor listrik.
Setia menilai lonjakan penjualan sebelumnya sangat dipengaruhi kebijakan stimulus pemerintah.
“Penjualan melalui mekanisme insentif pada 2023 sebesar 11.532 unit dan meningkat menjadi 62.541 unit di 2024,” ujarnya.
Namun, pada 2025, dampak insentif tersebut sangat terasa sehingga berpengaruh terhadap total penjualan. Kondisi ini mengindikasikan pasar motor listrik di Indonesia masih sangat bergantung pada stimulus kebijakan.
Atas situasi ini, pemerintah dan pelaku industri dihadapkan pada tantangan menjaga momentum elektrifikasi kendaraan. Diperlukan strategi lanjutan agar minat masyarakat terhadap motor listrik tetap tumbuh berkelanjutan tanpa bergantung sepenuhnya pada insentif.









