Berawal dari Teman Sekelas SMP di Bandung, Duo Musisi Ini Reuni dan Lahirkan Evoira

Berawal dari Teman Sekelas SMP di Bandung, Duo Musisi Ini Reuni dan Lahirkan Evoira

Gaya Hidup | inews | Selasa, 28 April 2026 - 15:07
share

JAKARTA, iNews.id - Band pendatang baru asal Bandung, Evoira resmi memperkenalkan diri ke industri musik Indonesia melalui single perdana berjudul “Titik Nadir”. Lagu ini menjadi langkah awal perjalanan mereka dalam menyuarakan keresahan, kejujuran emosi, dan refleksi diri melalui musik.

Terbentuk dari sebuah reuni antar teman lama yang pernah berada dalam satu band, Evoira hadir dengan semangat baru namun tetap membawa kesamaan visi dalam bermusik. Setelah sempat menjalani kesibukan masing-masing, mereka kembali dipertemukan oleh keresahan yang sama dan dorongan untuk kembali berkarya.

“Ini bukan sekadar euforia rilis pertama, tapi jadi momen penting bagi kami untuk membuka cara pandang kami dalam berbicara lewat musik,” ungkap salah satu personel. 

Bagi Evoira, debut ini bukan akhir, melainkan titik awal dari perjalanan panjang yang siap mereka jalani bersama.

Tentang Single “Titik Nadir”“Titik Nadir” lahir dari pengalaman pribadi yang sangat manusiawi—tentang runtuhnya kepercayaan, kehilangan, dan pencarian jati diri. Lagu ini tidak hanya berbicara tentang kehilangan seseorang, tetapi juga tentang kehilangan versi diri sendiri.

Judul “Titik Nadir” dipilih untuk merepresentasikan fase terendah dalam hidup seseorang, saat harus melepaskan sesuatu yang sebelumnya dipertahankan mati-matian. Namun di balik keterpurukan itu, terdapat proses untuk bangkit, sadar, dan pulih.

Proses Kreatif yang Organik dan Emosional

Dalam proses penciptaannya, Evoira mengedepankan pendekatan yang organik dan penuh rasa. Lagu ini berkembang dari progresi chord sederhana yang kemudian dibangun menjadi ruang bagi vokal untuk bercerita.
Eksplorasi dinamika menjadi kunci—kapan harus menahan, meledak, dan perlahan naik—membuat kekuatan “Titik Nadir” tidak hanya terletak pada klimaks, tetapi juga pada transisi emosional di setiap bagian lagu.

Identitas Musik Evoira
Melalui single ini, Evoira ingin dikenal sebagai band yang:
* Jujur secara emosional
* Menjadikan musik sebagai medium refleksi
* Menghadirkan karya yang bisa dirasakan, bukan sekadar didengar

Alih-alih tampil megah, Evoira memilih untuk dekat dan relevan dengan pendengar, menciptakan koneksi yang lebih dalam lewat musik mereka.

Cerita di Balik Evoira
Di balik Evoira, terdapat hubungan yang tidak dibangun dalam waktu singkat. Band ini lahir dari perjalanan panjang, pertemanan, dan proses bermusik yang sudah terjalin sejak lama.

Aa Dado (Tian Permana) sebagai gitaris berperan sebagai komposer utama sekaligus produser, yang membentuk DNA musikal Evoira. Sentuhan aransemennya menjadi fondasi dari karakter musik band ini—emosional, jujur, dan penuh dinamika.

Romboy (Raffi Dara Mutaqin) sebagai vokalis juga berperan sebagai komposer dan penulis lirik, menghadirkan cerita-cerita yang dekat dengan pengalaman manusia. Liriknya menjadi jiwa dari setiap karya Evoira, termasuk dalam “Titik Nadir”.

Menariknya, Aa Dado dan Romboy telah saling mengenal sejak SMP di Bandung. Keduanya merupakan teman sekelas yang sejak dulu selalu terlibat dalam berbagai proyek band yang sama. Chemistry yang terbangun sejak masa sekolah inilah yang kini menjadi kekuatan utama dalam proses kreatif Evoira.

Didukung oleh personel lain:
Uyung manson sebagai gitaris malang melintang di berbagai band indie di bandung dengan khas British yang mewarnai Evoira Band.

Afy antana sebagai Bassist yang memiliki karakter slide tentu memberikan warna tersendiri , Dari setiap betotan nya Koneksi emosional dan sejarah panjang tersebut menjadikan setiap karya Evoira terasa lebih organik, tulus, dan memiliki cerita yang kuat di baliknya.

Harapan dan Rencana ke Depan
Evoira menyadari bahwa tidak semua orang akan langsung terhubung dengan musik mereka—dan itu bukan masalah. Harapan mereka sederhana: lagu ini bisa menemukan pendengarnya sendiri.

Lebih dari sekadar didengar, mereka ingin musiknya bisa dirasakan, dipahami, dan menjadi ruang pemulihan bagi siapa pun yang sedang berada di fase “titik nadir”.

Ke depan, Evoira telah menyiapkan beberapa materi baru yang masih berada dalam benang merah yang sama, namun dengan eksplorasi emosi yang berbeda. Rencana mereka adalah merilis karya-karya tersebut secara bertahap yang nantinya akan dikemas dalam sebuah mini album.

Topik Menarik