Laba Maskapai Penerbangan Global Diprediksi Anjlok Imbas Lonjakan Harga Avtur
JAKARTA, iNews.id - Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), yang mewakili lebih dari 370 maskapai penerbangan atau sekitar 85 persen lalu lintas penerbangan global, memprediksi laba bersih industri penerbangan turun pada tahun 2026.
Mengutip data laporan tahunan, IATA memperkirakan laba bersih industri penerbangan dunia hanya mencapai 23 miliar dolar AS pada tahun ini. Angka tersebut jauh lebih rendah dari laba 45 miliar dolar AS yang dibukukan pada 2025.
Melansir Al Jazeera, IATA menyampaikan bahwa margin keuntungan industri penerbangan tahun ini akan menjadi yang terlemah sejak masa pandemi Covid-19.
Maskapai global, terutama yang berbasis di Eropa, sebelumnya juga telah menghadapi tekanan pada rute menuju Asia akibat penutupan wilayah udara Rusia yang masih berlangsung seiring perang di Ukraina.
IATA memprediksi total tagihan bahan bakar avtur akan melonjak menjadi sekitar 350 miliar dolar AS pada tahun ini, naik dari sekitar 252 miliar dolar AS pada 2025.
Biaya bahan bakar kini diperkirakan menyumbang hampir sepertiga dari total biaya operasional maskapai penerbangan di seluruh dunia.
"Pasokan bahan bakar jet terancam, dan harganya telah meningkat hampir dua kali lipat sejak akhir Februari," tulis IATA dalam laporannya.
Sementara, harga avtur di Amerika Serikat (AS) meningkat tajam menjelang puncak musim perjalanan musim panas. Kenaikan ini dipicu meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran yang menimbulkan kekhawatiran terhadap gangguan pengiriman energi melalui Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
Berdasarkan data Kementerian Perhubungan AS yang dirilis pada Senin, biaya bahan bakar melonjak 78 persen menjadi hampir 6,5 miliar dolar AS pada April 2026, setelah sebelumnya naik 26 persen pada Maret.
Harga bahan bakar per galon (3,78 liter) juga meningkat sebesar 1,81 dolar AS dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi 4,11 dolar AS per galon.
Tarif tiket pesawat di Negeri Paman Sam telah melonjak 5,5 persen sejak perang pecah. Kenaikan tersebut terdiri atas 2,7 persen pada Maret dan bertambah 2,8 persen pada April, menurut data Biro Statistik Tenaga Kerja Departemen Tenaga Kerja AS.
Meski harga bahan bakar melonjak, permintaan perjalanan domestik di AS masih tetap tinggi menjelang musim liburan musim panas. American Automobile Association (AAA) memperkirakan lonjakan perjalanan domestik selama akhir pekan Hari Memorial pada 23-25 Mei, yang secara tidak resmi menandai dimulainya musim panas di AS.
Organisasi tersebut memproyeksikan sekitar 3,6 juta penumpang akan menggunakan penerbangan domestik selama periode tersebut.
Namun, tekanan biaya yang semakin besar mulai mengancam keberlangsungan sejumlah maskapai. Maskapai berbiaya rendah Spirit Airlines menghentikan operasinya pada awal Mei setelah beroperasi selama tiga dekade.
Dalam dokumen pengadilan, Spirit Airlines menyebut lonjakan harga bahan bakar sebagai salah satu penyebab utama kebangkrutannya.
Pada April lalu, CEO United Airlines Scott Kirby mengatakan maskapai yang berbasis di Chicago itu perlu menaikkan harga tiket hingga 20 persen untuk mengimbangi lonjakan biaya operasional.
Pekan lalu, American Airlines juga mengumumkan penghentian sementara sejumlah rute penerbangan akibat kenaikan biaya yang tajam. Beberapa rute yang terdampak mencakup penerbangan lintas benua seperti Charlotte-Sacramento dan Los Angeles-Pittsburgh.










