AS Klaim Damai dengan Iran di Depan Mata, Restu Mojtaba Khamenei Jadi Penentu

AS Klaim Damai dengan Iran di Depan Mata, Restu Mojtaba Khamenei Jadi Penentu

Berita Utama | inews | Jum'at, 12 Juni 2026 - 15:19
share

JAKARTA, iNews.id – Amerika Serikat mengklaim kesepakatan damai dengan Iran semakin dekat untuk dicapai. Namun, Pakar Politik Luar Negeri Pitan Daslani menilai peluang perdamaian masih menghadapi jalan terjal karena keputusan akhir berada di tangan figur berpengaruh Iran, Mojtaba Khamenei.

Menurut Pitan, berbagai proses diplomasi yang berlangsung antara Washington dan Teheran belum menjamin lahirnya kesepakatan final. Ia menegaskan, arah kebijakan strategis Iran tidak sepenuhnya ditentukan oleh presiden, parlemen, maupun Kementerian Luar Negeri.

“Keputusan mengenai kesepakatan damai bukan berada di Garda Revolusi Iran, bukan di presiden, bukan di parlemen, dan bukan pula di menteri luar negeri. Penentunya ada pada pemimpin tertinggi, yakni Mojtaba Khamenei,” ujar Pitan, Jumat (12/6/2026).

Dia menjelaskan, dalam perundingan yang berlangsung terdapat 14 poin usulan dari kedua pihak. Dari sisi Iran, sejumlah poin disebut merupakan penjabaran dari pernyataan Mojtaba Khamenei yang disampaikan pada 10 Maret 2026.

Dalam usulannya, Iran meminta tiga syarat utama, yakni pencabutan seluruh sanksi ekonomi yang dijatuhkan AS, penarikan pasukan Amerika Serikat dari negara-negara Arab, serta pembayaran kompensasi sebesar 500 miliar dolar AS atas berbagai kerugian yang dialami Iran.

Pitan menilai tuntutan tersebut masih sulit diterima oleh Washington sehingga peluang tercapainya kesepakatan komprehensif masih terbuka untuk gagal.

“Sampai saat ini belum ada kesepakatan final berupa memorandum of understanding (MoU) yang akan ditandatangani kedua pihak. Karena itu, peluang negosiasi damai masih menghadapi banyak hambatan,” katanya.

Selain faktor Iran dan AS, Pitan juga menyoroti posisi Israel yang dinilai berpotensi menjadi penghalang utama terwujudnya perdamaian. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut tetap bersikeras agar Iran menyerahkan seluruh uranium yang telah diperkaya dan membongkar seluruh fasilitas nuklirnya.

Menurutnya, syarat yang diajukan Israel tersebut hingga kini belum dipenuhi oleh Teheran. Karena itu, meskipun AS dan Iran nantinya mencapai kesepakatan, situasi keamanan di kawasan belum tentu langsung membaik.

“Selama tuntutan Israel belum dipenuhi, kesepakatan antara AS dan Iran tidak akan banyak berarti. Israel kemungkinan akan tetap melanjutkan tekanan dan serangan terhadap Iran,” ujarnya.

Pitan menambahkan, dinamika hubungan AS-Iran ke depan akan sangat bergantung pada sikap kepemimpinan tertinggi Iran serta kemampuan para pihak menemukan titik temu atas isu sanksi, keberadaan pasukan AS di Timur Tengah, dan program nuklir Iran. Dengan kondisi tersebut, klaim bahwa perdamaian sudah dekat masih perlu diuji melalui kesepakatan konkret yang dapat diterima semua pihak.

Topik Menarik