Update Gempa M6,7 di Palu, BMKG Sebut Potensi Likuefaksi tapi Tidak Sedahsyat 2018

Update Gempa M6,7 di Palu, BMKG Sebut Potensi Likuefaksi tapi Tidak Sedahsyat 2018

Nasional | inews | Selasa, 16 Juni 2026 - 15:00
share

JAKARTA, iNews.id – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terus memantau potensi munculnya fenomena geologi likuefaksi (pencairan tanah) usai gempa bumi kuat bermagnitudo 6,7 yang mengguncang Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (16/6/2026). 

Langkah ini diambil mengingat Kota Palu memiliki riwayat kelam kedaruratan likuefaksi masif yang menelan banyak korban jiwa saat dihantam gempa bumi M7,5 pada tahun 2018 silam. 

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa peluang terjadinya likuefaksi akibat guncangan gempa kali ini tetap ada. Kendati demikian, fenomena tersebut tidak akan menyasar ke semua tempat, melainkan bersifat sangat lokal di titik-titik dengan karakteristik tanah tertentu. 

“Terkait dengan risiko likuefaksi, pada tahun 2018 lalu memang ada beberapa wilayah di Palu yang terdampak likuefaksi dahsyat. Dengan gempa M6,7 saat ini, kemungkinan itu bisa saja terjadi. Namun, likuefaksi tidak terjadi di semua wilayah, hanya di area tertentu yang kondisi tanahnya berpasir dan memiliki potensi air tanah naik,” ujar Wijayanto dalam konferensi pers daring, Selasa (16/6/2026). 

Wijayanto menenangkan masyarakat dengan memaparkan skala perbandingan energi gempa. Secara matematis dan fisis, kekuatan energi yang dilepaskan pada gempa bumi berkekuatan M6,7 hari ini jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan gempa maut M7,5 pada delapan tahun lalu. 

Perbedaan magnitudo antara 6,7 dan 7,5 memiliki rentang daya rusak dan pelepasan energi yang sangat jauh berbeda.

BMKG memproyeksikan, jika pun nantinya muncul titik likuefaksi baru di sekitar episentrum gempa, dampaknya dipastikan tidak akan se-signifikan dan se-merusak sektor permukiman pada tahun 2018. 

Hingga Selasa siang, BMKG menegaskan belum menerima data ataupun laporan dari tim BPBD di lapangan mengenai adanya pergeseran tanah, likuefaksi, maupun tanah longsor di sepanjang jalur patahan. 

Laporan yang masuk ke pusat data BMKG sejauh ini masih didominasi oleh dampak kerusakan fisik pada fasilitas umum dan rumah warga yang dikategorikan dalam skala kerusakan ringan.

“Sampai saat ini kami belum menerima informasi adanya likuefaksi maupun longsor. Laporan yang baru masuk menunjukkan kerusakan ringan pada bangunan, dan utamanya bukan pada kerusakan struktur utama atau pondasi,” katanya. 

Beberapa titik kerusakan yang terpantau tim di lapangan di antaranya adalah runtuhnya plafon Kantor Bupati Sigi, retakan pada dinding rumah warga, pagar pembatas yang roboh, serta ambruknya atap sebuah kafe akibat konstruksi penyangga yang kurang kokoh. 

BMKG mengimbau warga Palu, Sigi, dan Donggala untuk tidak panik namun tetap waspada terhadap potensi rentetan gempa susulan (aftershocks).

Topik Menarik