Lesu, Rupiah Hari Ini Ditutup Ambles ke Rp17.843 per Dolar AS
JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS pada akhir perdagangan, Senin (22/6/2026). Rupiah turun 32 poin atau sekitar 0,22 persen ke level Rp17.843 per dolar AS.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi menuturkan, salah satu sentimen datang dari eksternal yakni sentimen pasar terguncang setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan Iran tentang potensi aksi militer tambahan, kecuali Iran mengambil langkah untuk mengendalikan kelompok Hizbullah yang beroperasi di Lebanon.
“Komentar tersebut muncul ketika Wakil Presiden AS JD Vance membuka babak baru pembicaraan diplomatik dengan perwakilan Iran di Swiss,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Namun, pembicaraan AS-Iran berakhir di Swiss, dengan Teheran mengatakan telah mendapatkan pengecualian untuk ekspor minyak dan petrokimia, meredakan kekhawatiran tentang kekurangan pasokan di pasar global. dan menekan harga minyak mentah.
Para pejabat tinggi AS dan Iran menyelesaikan putaran pertama pembicaraan mereka di Swiss pada hari Senin, kata para mediator. Pembicaraan dimulai pada hari Minggu berdasarkan nota kesepahaman yang dicapai pekan lalu untuk memperpanjang gencatan senjata yang rapuh dari bulan April setidaknya selama 60 hari lagi.
Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan "kemajuan yang baik" telah dicapai selama pembicaraan segi empat di Swiss, sementara mediator dari Qatar dan Pakistan mengatakan para negosiator telah menyepakati peta jalan menuju kesepakatan yang lebih luas. Diskusi teknis dijadwalkan akan berlanjut sepanjang minggu.
Dari sentimen domestik, Bank Indonesia (BI) memproyeksikan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya kenaikan pada jenis Pertamax dan Pertamax Turbo, akan memberikan andil terhadap peningkatan inflasi nasional. Saat ini terdapat sejumlah faktor risiko inflasi yang mencuat dan menjadi perhatian bank sentral.
Tantangan utama berasal dari rambatan global berupa transmisi harga minyak dan komoditas ke dalam negeri, atau yang lazim disebut sebagai imported inflation. Faktor rambatan global tersebut secara langsung berdampak pada kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices), seperti yang tercermin dari kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi baru-baru ini.
Faktor risiko kedua yang tengah diwaspadai adalah potensi gangguan cuaca. Fenomena El Nino diperkirakan akan melanda Indonesia pada periode akhir Juni hingga Oktober atau November mendatang. Kondisi cuaca ekstrem ini berpotensi memberikan tekanan pada kelompok harga pangan bergejolak (volatile food).
Meski demikian, BI menilai risiko dari sisi hulu pertanian, seperti lonjakan harga pupuk, dapat diredam karena kapasitas produksi pupuk domestik dinilai masih sangat mencukupi. Oleh sebab itu, BI mengonfirmasi bahwa laju inflasi memang mulai menunjukkan tren peningkatan.
Sebagai langkah mitigasi, BI terus memperkuat sinergi dengan berbagai pihak. Terkait stabilitas harga volatile food, langkah antisipasi difokuskan melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang dikoordinasikan secara intensif bersama pemerintah daerah di seluruh Indonesia guna memastikan ketersediaan pasokan.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup menguat dalam rentang Rp17.850-Rp17.890 per dolar AS.









