Harga Minyak Dunia Turun usai AS-Iran Capai Kemajuan Perundingan Damai
JAKARTA, iNews.id - Harga minyak dunia turun pada perdagangan, Senin (22/6/2026) setelah Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance menyampaikan bahwa pihaknya dan Iran berhasil mencapai kemajuan dalam perundingan damai yang berlangsung di Swiss.
Melansir CNBC International, kontrak berjangka minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, turun 2,4 persen menjadi 78,64 dolar AS per barel. Sementara, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,44 persen menjadi 75,50 dolar AS per barel.
"Ya, ada sedikit ancaman, ada sedikit keluhan, tetapi pada akhirnya pembicaraan tetap berlanjut dan kami mencapai kemajuan besar," ucap JD Vance dalam keterangannya.
Sementara itu, mediator dari Qatar dan Pakistan menyatakan bahwa pejabat AS dan Iran telah menyepakati peta jalan yang ditujukan untuk mencapai kesepakatan final dalam waktu 60 hari.
Kedua mediator juga menyebutkan bahwa AS dan Iran akan melanjutkan negosiasi teknis sepanjang pekan ini serta membentuk komite tingkat tinggi untuk mengawasi proses mediasi.
Perkembangan tersebut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan kembali melakukan aksi militer terhadap Iran. Pernyataan tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai keberlangsungan perjanjian damai sementara yang rapuh yang dicapai kedua negara pada pekan lalu.
Trump menyampaikan pernyataan tersebut pada Minggu, saat Vance bertemu dengan para pejabat Iran di Swiss. Pertemuan itu dibayangi oleh pengumuman Teheran yang kembali menutup Selat Hormuz, jalur strategis bagi pengiriman minyak dunia.
Pembahasan yang berlangsung di kawasan resor Bürgenstock, Swiss, menjadi negosiasi pertama sejak Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman pada pekan lalu untuk mengakhiri konflik serta memperpanjang gencatan senjata yang masih rapuh setidaknya selama 60 hari.
Kesepakatan tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian permusuhan di kawasan, termasuk di Lebanon. Namun, Iran menuduh Washington gagal menjamin pelaksanaan gencatan senjata di Lebanon dan menegaskan bahwa pembicaraan terbaru hanya akan berfokus pada implementasi nota kesepahaman, bukan isu-isu yang lebih luas seperti program nuklirnya.
Di sisi lain, meskipun harga minyak sempat menguat akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, Goldman Sachs menilai gangguan pasokan yang berlangsung lama justru dapat mempercepat peralihan ke kendaraan listrik.
Kondisi itu berpotensi mengurangi permintaan minyak mentah dalam jangka panjang dan menambah risiko penurunan harga minyak di masa mendatang.










