Trump Sebut Aset Iran Akan Dikendalikan AS, Ini Respons Keras Teheran
WASHINGTON/TEHERAN, iNews.id - Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memicu respons keras dari Iran terkait penggunaan aset yang dicairkan dalam kesepakatan lanjutan kedua negara. Iran menegaskan, mereka tidak akan bisa diarahkan untuk membeli produk tertentu dari AS.
Trump sebelumnya mengklaim, Iran telah menyetujui sejumlah poin dalam negosiasi, termasuk rencana penggunaan dana yang dibekukan untuk membeli kebutuhan pangan dan medis dari AS. Dia juga menyebut mekanisme tersebut berada di bawah pengawasan pemerintahannya.
“Uang dan/atau sanksi yang diberlakukan Departemen Keuangan AS masuk dalam rekening penampungan (escrow), yang dikendalikan AS, dan akan digunakan untuk membeli makanan dan perlengkapan medis, secara eksklusif dari AS,” kata Trump, dalam pernyataan di akun Truth Social.
Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran Esmail Baghaei. Dia menegaskan, aset yang telah dicairkan sepenuhnya berada di bawah kewenangan pemerintah Iran dan akan digunakan sesuai kebutuhan nasional.
“Kami akan memutuskan bagaimana menggunakan aset-aset yang telah dicairkan dengan cara yang menguntungkan negara. Mengenai pembelian barang dengan dana ini, Kementerian Pertanian dan badan-badan terkait lain akan menentukan sendiri apakah ada kebutuhan untuk membeli produk pangan, berdasarkan harga dan kualitas barang,” ujar Baghaei.
Menurut Iran, tidak ada kewajiban untuk mengalokasikan dana tersebut hanya untuk produk asal AS. Dana yang sebelumnya dibekukan disebut harus kembali digunakan secara fleksibel untuk kepentingan rakyat Iran, termasuk kebutuhan pangan dan kesehatan.
Sebelumnya, Trump juga mengklaim Iran telah menyetujui inspeksi internasional tanpa batas waktu terhadap fasilitas nuklirnya dalam rangka kesepakatan lanjutan. Dia bahkan mengancam, jika Iran menolak, Washington siap menghentikan negosiasi dan mengambil langkah lebih keras.
Di sisi lain, Iran belum memberikan konfirmasi atas klaim tersebut dan menegaskan, setiap kesepakatan akan bergantung pada kepentingan nasional serta proses negosiasi yang setara antara kedua pihak.
Ketegangan narasi antara Washington dan Teheran ini kembali menunjukkan bahwa pembicaraan kedua negara masih berlangsung sensitif, terutama terkait isu nuklir, sanksi, dan penggunaan aset yang dibekukan.










