Ketegangan Memanas, Hizbullah Bersumpah Lanjutkan Perang Melawan Israel
LEBANON, iNews.id - Hizbullah kembali menegaskan komitmennya untuk terus melawan Israel di tengah konflik yang masih berlangsung. Kelompok yang berbasis di Lebanon itu menyatakan tidak akan menyerah dan siap melanjutkan perlawanan meski menghadapi tekanan serta serangan yang terus meningkat.
Pernyataan tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, yang menegaskan seluruh anggota kelompoknya siap berkorban dalam menghadapi Israel.
Menurutnya, Hizbullah tidak memiliki alasan untuk menyerah selama masih mampu mempertahankan perlawanan.
"(Hizbullah) adalah kelompok yang tidak takut mati dan kami selalu menang dalam menghadapi mereka yang mengancam kami dengan kematian. Kerugian besar itu tidak seberapa dibandingkan dengan menyerah dan kekalahan. Jika kita mampu meraih kemenangan, mengapa kita harus menyerah (terhadap Israel)," katanya.
Dalam pidatonya pada Jumat (19/6/2026), Qassem juga menuduh Israel berupaya melemahkan Hizbullah dengan membatasi akses masuknya persenjataan ke Lebanon melalui jalur darat, laut, dan udara.
Menurut dia, langkah tersebut dilakukan untuk menghambat penguatan kelompok perlawanan di negara tersebut.
Qassem menilai kebijakan tersebut menunjukkan kekhawatiran Israel terhadap kemampuan Hizbullah. Selain itu, dia juga menyoroti meningkatnya serangan militer Israel ke wilayah Lebanon dalam beberapa hari terakhir.
Menurut Qassem, rangkaian serangan tersebut merupakan bagian dari upaya Israel untuk melemahkan dan menghapus keberadaan Hizbullah. Karena itu, dia menegaskan kelompoknya akan terus memberikan perlawanan dan membalas setiap serangan yang dilancarkan.
"(Israel dan Amerika Serikat) berupaya menutup jalur udara, laut, dan darat untuk mencegah masuknya senjata, teknologi, dan apa pun yang dapat memperkuat Perlawanan," ujar Qassem.
Pernyataan Hizbullah tersebut menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah yang hingga kini masih dibayangi potensi meluasnya konflik regional. Situasi tersebut terus menjadi perhatian masyarakat internasional karena berisiko memperpanjang instabilitas di kawasan.









