Kerahkan Ratusan Alat Berat, China Buka Akses Jalan ke Perbatasan Nepal yang Lenyap akibat Banjir

Kerahkan Ratusan Alat Berat, China Buka Akses Jalan ke Perbatasan Nepal yang Lenyap akibat Banjir

Terkini | inews | Rabu, 2 September 2026 - 17:04
share

BEIJING, iNews.id - China berhasil memulihkan sepenuhnya akses jalan ke pos perbatasan dengan Nepal, Gyirong, Rabu (2/9/2026). Satu-satunya akses jalan itu sebelumnya lenyap diterjang banjir bandang pada 26 Agustus lalu.

Petugas SAR China sebelumnya harus menggunakan helikopter untuk mengakses pos perbatasan itu karena tak mungkin dilalui dari jalur darat.

Pemerintah China mengerahkan ratusan alat berat untuk membersihkan Jalan Raya Nasional G216 yang terkubur material batu dan lumpur guna memulihkan jalan tersebut. Rute menuju pos perbatasan Gyirong berada persis di pinggir sungai yang dilintasi banjir bandang dahsyat.

Dengan dibukanya akses tersebut, alat-alat berat dan truk bisa menjangkau pos perbatasan yang juga hancur diterjang banjir dan tanah longsor.

Sejumlah besar alat telah mencapai area tempat pos pemeriksaan perbatasan di sisi China. Terlihat pula peralatan untuk operasi pencarian korban.

Diketahui banyak korban tertimbun longsor atau hanyut dibawa banjir di pos perbatasan tersebut.

Dalam rekaman video yang dirilis stasiun televisi CCTV, tim SAR menggunakan ekskavator, alat pendeteksi kehidupan, dan anjing pelacak, dikerahkan.

Namun operasi harus dihentikan sesekali karena hujan yang terus menerus tuturn serta medan yang sulit. Tim harus bekerja di ngarai pegunungan yang sempit, terjepit di antara tebing yang tidak stabil serta sungai deras.

Di saat bersamaan, pihak berwenang memantau danau-danau di hulu yang debit airnya kembali naik pasca-banjir bandang. Danau-danau itu berpotensi jebol kembali, memicu banjir dahsyat. Selain itu, tim juga mengkhawatirkan longsor.

Sementara itu di Nepal, harapan untuk menemukan korban hilang dalam keadaan hidup sangat tipis.

Sejauh ini 1.114 orang tewas di Nepal saja dan hampir 4.000 orang hilang.

Sementara di China, korban tewas 16 orang dan 546 lainnya hilang. Jumlah tersebut termasuk warga asing, yakni 104 warga India, 49 Nepal, serta 33 warga Latvia yang diyakini sebagai bagian dari dua kelompok turis.

Topik Menarik