Santri di Grobogan Dianiaya 2 Kakak Kelas, Luka di Wajah dan Kepala hingga Masuk RS

Santri di Grobogan Dianiaya 2 Kakak Kelas, Luka di Wajah dan Kepala hingga Masuk RS

Nasional | inews | Kamis, 24 September 2026 - 15:22
share

GROBOGAN, iNews.id - Seorang santri MTs kelas VIII di Pondok Pesantren Manba'ul A'la, Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, harus menjalani perawatan di rumah sakit. Dia diduga menjadi korban penganiayaan dua kakak kelas.

Akibat kejadian itu, korban mengalami luka memar di wajah dan pendarahan di bagian belakang kepala.

Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (22/9/2026) siang saat korban bersama dua santri yang diduga sebagai pelaku hendak makan siang di pondok. Korban kemudian diduga ditarik ke sebuah kamar dan mengalami kekerasan di dalam ruangan tersebut.

Setelah kejadian, korban dalam kondisi terluka meninggalkan pondok dan pulang ke rumah. Dalam perjalanan, korban bahkan hampir terjatuh karena menahan rasa sakit.

Korban kemudian menghentikan seorang tukang becak dan meminta diantar pulang. Sesampainya di rumah, keluarga korban terkejut melihat kondisi korban yang mengalami luka pada bagian wajah dan kepala.

Keluarga kemudian membawa korban ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Hingga kini, korban masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Yakkum Purwodadi dan disebut mengalami trauma setelah kejadian tersebut.

Kakak dan ibu korban selanjutnya mendatangi pihak Pondok Pesantren Manba'ul A'la untuk meminta penjelasan. Keluarga kemudian melaporkan dugaan penganiayaan tersebut ke Polres Grobogan.

Kakakn kandung korban, Shela Putri Nur Hidayah mengatakan, kejadian berlangsung setelah korban dipanggil ke kamar oleh santri yang diduga sebagai pelaku.

"Dia itu dipanggil pelaku ke kamarnya lalu dihajar. Semua orang di situ tahu semua," ujarnya, Kamis (24/9/2026)/

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Manba'ul A'la, Ahmad Liwaul Hamdi mengatakan, pihak pondok telah memiliki prosedur penanganan untuk kejadian kekerasan. Pihaknya juga mengaku telah berkoordinasi dengan Kapolres dan pihak terkait setelah mengetahui kejadian tersebut.

Di samping pondok sudah ada SOP untuk kejadian seperti itu, kami sudah koordinasi dengan Kapolres serta pihak terkait untuk menangani kasus ini.

Pihak pesantren juga menyatakan terbuka dalam penanganan kasus tersebut dan mendukung proses yang berjalan. Sebelumnya, pihak pondok sempat mempertemukan keluarga korban dengan pihak terduga pelaku untuk mencari penyelesaian.

"Kami selalu terbuka apa adanya dan mendukung sikap-sikap tidak terpuji. Kami mengedepankan perdamaian agar kedua pihak saling menerima," ujarnya.

Menurut pihak pesantren, peristiwa tersebut diduga bermula dari candaan yang melewati batas. Namun, pihak pondok menegaskan kekerasan tetap tidak sejalan dengan nilai yang diterapkan di lingkungan pesantren.

"Permasalahannya candaan yang melewati batas, apa pun sebabnya tindakan semacam itu tidak sesuai dengan semangat pesantren dan nilai-nilai keislaman," ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan keterangan keluarga dan pihak pesantren, dugaan penganiayaan tersebut juga dikaitkan dengan persoalan pribadi. Salah satu informasi yang muncul yakni dugaan rasa cemburu terhadap seorang santriwati yang dinilai lebih memberikan perhatian kepada korban.

Namun, motif dan rangkaian kejadian secara lengkap masih dalam penanganan kepolisian. Pihak pondok sebelumnya juga sempat berupaya menempuh jalur damai dengan mempertemukan kedua pihak.

Kini kasus tersebut telah dilaporkan dan ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Grobogan. Polisi masih melakukan pemeriksaan terhadap pihak-pihak terkait untuk mengungkap rangkaian kejadian secara lengkap.

Sementara korban masih menjalani perawatan di rumah sakit akibat luka yang dialaminya. Kondisi psikologis korban juga menjadi perhatian setelah peristiwa dugaan kekerasan tersebut.

Topik Menarik