Kemenkes: 25.000 Orang Indonesia Meninggal Dunia per Tahun akibat Kanker Darah

Kemenkes: 25.000 Orang Indonesia Meninggal Dunia per Tahun akibat Kanker Darah

Terkini | inews | Rabu, 30 September 2026 - 13:54
share

JAKARTA, iNews.id — Kanker darah masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian di Indonesia. Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan, penyakit tersebut masuk dalam jajaran 10 besar kanker di Indonesia dan dikaitkan dengan sekitar 25.000 kematian setiap tahun.

Dante menyampaikan hal tersebut saat menghadiri kegiatan di Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta, Rabu (30/9/2026). Menurut dia, data Global Cancer Observatory (Globocan) 2024 mencatat sekitar 474.000 kasus kanker baru di Indonesia setiap tahunnya.

"Berdasarkan data Globocan 2024, terdapat 474.000 kanker baru di seluruh Indonesia setiap tahunnya. Dari angka tersebut, ternyata kanker darah menduduki 10 terbesar di antaranya dan menyebabkan 25.000 kematian setiap tahunnya," ungkap Dante.

Lebih lanjut, Wamenkes Dante menjelaskan pentingnya memahami peran sumsum tulang dalam sistem pembentukan darah. Bagian tubuh tersebut menjadi tempat produksi berbagai sel darah yang dibutuhkan tubuh.

Dia mengibaratkan sumsum tulang sebagai sebuah pabrik. Ketika proses produksi mengalami gangguan, kondisi tersebut dapat memicu berbagai penyakit, termasuk kanker darah.

"Kita sering mengira tulang itu organ struktural seperti bangunan beton. Tapi sebenarnya, di dalam tulang ada pabrik spesifik yang memproduksi sel-sel darah. Kalau pabrik ini mengalami kesalahan produk, timbul penyakit kanker darah," tutur Dante.

Menurut Dante, tingginya angka tersebut menunjukkan perlunya tata laksana kanker yang tepat. Pemerintah pun mendorong penguatan layanan agar penanganan kanker darah dapat dilakukan secara lebih optimal.

RS Dharmais Kembangkan Transplantasi

Salah satu penanganan yang dikembangkan adalah transplantasi sumsum tulang atau transplantasi sel punca hematopoietik.

Direktur Utama RS Kanker Dharmais dr. Eniarti mengatakan, pihaknya telah melakukan 16 transplantasi sel punca hematopoietik sejak program tersebut mulai dikembangkan pada 2016.

"Setelah melalui berbagai tahapan pengembangan, program transplantasi sumsum tulang di Rumah Sakit Kanker Dharmais terus mengalami perkembangan dan penguatan hingga tahun 2026 telah dilaksanakan 16 transplantasi sel punca hematopoietik," kata Eniarti.

Meski demikian, transplantasi sumsum tulang masih menghadapi tantangan, terutama dalam memperoleh donor dengan kecocokan penuh atau 100 persen.

Untuk memperluas peluang mendapatkan donor, RS Kanker Dharmais tengah mengembangkan layanan transplantasi haploidentical. Metode tersebut memungkinkan calon donor dengan kecocokan sekitar 50 persen menjadi salah satu opsi.

"Saat ini pelayanan yang sudah terstandarisasi dilakukan adalah layanan transplantasi alogenik full-match untuk menjawab kesulitan mendapatkan donor kecocokan 100 persen. Ke depannya akan tersedia layanan transplantasi sumsum tulang haploidentical yang memungkinkan orang dengan kecocokan 50 persen menjadi calon donor," ucap dr Eniarti.

Kemenkes Siapkan RAN Kanker

Upaya penanganan kanker juga dilakukan melalui penyusunan Rencana Aksi Nasional (RAN) Kanker. Dante mengatakan dokumen tersebut disiapkan sebagai salah satu acuan penatalaksanaan kanker di Indonesia.

"Kami telah membuat Rencana Aksi Nasional atau RAN untuk kanker. Ini juga kontribusi dari teman-teman sejawat sekalian yakni dari Rumah Sakit Dharmais yang ikut serta dalam pembuatan RAN Kanker di seluruh Indonesia sehingga menjadi acuan untuk white book penatalaksanaan kanker di seluruh Indonesia," papar Wamenkes.

Selain penguatan layanan transplantasi, RS Kanker Dharmais juga mengembangkan Regenerative and Advanced Laboratory. Fasilitas tersebut ditujukan untuk mendukung penelitian dan pengembangan inovasi terapi kanker.

Eniarti berharap hasil penelitian dari laboratorium tersebut nantinya dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan penanganan kanker dan dimanfaatkan oleh rumah sakit lain di Indonesia.

"Kami nanti akan melakukan peninjauan Regenerative and Advanced Laboratory yang tentunya kami berharap dari laboratorium ini akan memunculkan beberapa temuan-temuan baru untuk kanker dan bisa dimanfaatkan juga untuk rumah sakit-rumah sakit lainnya," pungkas Eniarti.

Topik Menarik