Iran Tak Akan Buka Selat Hormuz sampai 7 Tuntutannya Dipenuhi AS
TEHERAN, iNews.id - Iran menegaskan tidak akan membuka Selat Hormuz sampai tujuh tuntutannya dipenuhi Amerika Serikat (AS). Sikap keras tersebut disampaikan setelah Teheran sebelumnya mengajukan proposal untuk membuka kembali jalur perairan strategis itu dalam waktu tujuh hari.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan negaranya tidak akan bertekuk lutut menghadapi tekanan AS. Iran, kata dia, siap menghadapi semua kemungkinan, baik melanjutkan perang maupun kembali ke meja perundingan.
Menyinggung sejumlah usulan baru yang disampaikan AS melalui negara mediator setelah proposal pembukaan Selat Hormuz diajukan Iran, Ghalibaf menegaskan kembali bahwa pembukaan jalur tersebut tetap bergantung pada pemenuhan tujuh tuntutan Teheran.
Tujuh tuntutan tersebut disusun berdasarkan Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad yang ditandatangani oleh presiden Iran dan AS pada 17 Juni lalu. Namun, kesepakatan itu hanya bertahan hingga awal Juli sebelum kembali pecah setelah serangan AS.
Salah satu tuntutan utama Iran adalah penghentian blokade maritim AS yang mencegah ekspor minyak serta barang-barang Iran lainnya. Teheran juga menuntut pencairan aset Iran yang dibekukan.
Ghalibaf menegaskan Iran tidak takut dengan tindakan apa pun yang dilakukan AS. Menurut dia, Teheran justru tengah mempersiapkan langkah-langkah baru untuk menghadapi tekanan Washington.
"Kami hadir di medan pertempuran dengan segenap kekuatan dan akan menghadapi mereka dengan kejutan-kejutan baru," kata Ghalibaf kepada parlemen, seperti dikutip Anadolu, Senin (5/10/2026).
Dia menambahkan Iran juga tetap menggunakan jalur diplomasi untuk memperjuangkan kepentingannya.
"Kami juga menggunakan sarana diplomasi untuk menegaskan keunggulan di bidang militer serta memperjuangkan hak-hak rakyat Iran," ujarnya.
Konflik Iran dan AS yang berlangsung sejak 28 Februari hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Negosiasi kedua negara juga belum memiliki kepastian kapan akan kembali digelar.
Di tengah situasi tersebut, Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling krusial dalam konflik. Iran sebelumnya menawarkan pembukaan kembali jalur pelayaran strategis itu selama tujuh hari dengan sejumlah persyaratan.
Namun, dengan pernyataan terbaru Ghalibaf, Teheran menegaskan bahwa pembukaan Selat Hormuz bukan lagi sekadar persoalan negosiasi teknis. Iran menjadikannya bagian dari tuntutan yang lebih luas kepada AS.
Teheran sekaligus menunjukkan bahwa tekanan militer dan diplomasi akan berjalan beriringan. Iran mengaku siap melanjutkan pertempuran, tetapi pada saat yang sama tetap membuka ruang untuk negosiasi jika tuntutannya dipenuhi.
Dengan demikian, nasib Selat Hormuz kini kembali berada di tengah tarik-menarik kepentingan Iran dan AS. Selama tujuh tuntutan Teheran belum dipenuhi, Iran menegaskan jalur perairan strategis tersebut tidak akan dibuka sepenuhnya.










