GEBRAK Perkuat Edukasi Produk Tembakau Alternatif

GEBRAK Perkuat Edukasi Produk Tembakau Alternatif

Nasional | sindonews | Senin, 16 Maret 2026 - 22:16
share

Di tengah maraknya misinformasi produktembakau alternatif (PTA), Gerakan Bebas TAR & Asap Rokok (GEBRAK) menggelar diskusi publik bertajuk “Ngobrol Santai Bareng GEBRAK: Kenal Lebih Dekat Produk Tembakau Alternatif & Cara Pakainya Secara Bertanggung Jawab” di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Sabtu (14/3/2026).

Kegiatan yang mengundang berbagai komunitas ini menjadi ruang edukasi untuk berbagi informasi mengenai penggunaan produk tembakau alternatif secara bertanggung jawab.

Ketua GEBRAK Garindra Kartasasmita mengatakan, edukasi publik ini sangat krusial agar masyarakat, salah satunya konsumen memperoleh informasi yang akurat dan berimbang mengenai produk tembakau alternatif. Banyak perokok dewasa yang sebenarnya ingin mencari alternatif dari rokok tetapi masih kebingungan karena minimnya informasi yang komprehensif.

“Tantangan terbesarnya justru saat ini adalah hoaks dan misinformasi. Kalau tahun 2018–2019 edukasi jauh lebih mudah karena orang fokus pada perubahan positif yang dirasakan di badannya. Sekarang banyak informasi miring di media sosial yang membingungkan masyarakat,” ujar Garindra.

Produk tembakau alternatif seperti rokok elektronik (vape), produk tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin telah terbukti secara kajian ilmiah memiliki profil risiko yang berbeda dengan rokok. “Produk tembakau alternatif menyalurkan nikotin dengan profil risiko yang berbeda dibandingkan rokok. Seperti mobil, ada yang menggunakan bahan bakar bensin dan listrik. Keduanya sama-sama kendaraan, namun mobil listrik memiliki profil risiko yang lebih rendah (dalam hal polusi),” katanya.

Sejumlah penelitian mulai membandingkan profil risiko antara rokok dan produk tembakau alternatif, khususnya terkait paparan zat berbahaya yang dihasilkan dari kedua produk tersebut.

Salah satunya adalah penelitian terbaru bertajuk “Evaluation of Laboratory Tests for E-Cigarettes in Indonesia Based on WHO’s Nine Toxicants” yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Hasil penelitian BRIN menunjukkan bahwa dari sembilan senyawa toksikan utama yang dianalisis, kadar senyawa berbahaya yang terdapat pada emisi rokok elektronik tercatat secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan yang ditemukan pada asap rokok.

“Bahkan, 3 sampai 4 zat toksikan utama tidak ditemukan sama sekali di rokok elektronik. Inti perbedaannya memang terletak pada keberadaan TAR dari proses pembakaran yang dilakukan,” ujar Garindra.Selain derasnya misinformasi, dia menyayangkan maraknya penyalahgunaan rokok elektronik. Akibatnya, reputasi produk tembakau alternatif sebagai opsi beralih dari kebiasaan merokok bagi perokok dewasa terus mendapatkan penilaian yang negatif.

Sebagai mantan perokok, Erwin yang merupakan anggota Yamaha NMAX Club Indonesia (YNCI) Chapter Tangerang Selatan, berbagi pengalaman mengenai keberhasilan sejumlah rekan di komunitasnya untuk berhenti dari kebiasaan merokok.

“Banyak di komunitas kami yang tadinya tergolong perokok berat. Tapi karena melihat teman-teman sebelumnya yang pakai rokok elektronik dan berhasil berhenti merokok, banyak yang merasa ingin coba pakai,” tuturnya.

Pengguna rokok elektronik sekaligus anggota komunitas Matic Dizzy Person, Mamet menceritakan pengalamannya beralih ke rokok elektronik sebagai upaya mengurangi risiko yang selama ini dia rasakan akibat dari kebiasaan merokok.

Dia merasakan sejumlah perubahan positif setelah memutuskan menggunakan produk tembakau alternatif. “Perubahannya sangat terasa. Pertama soal penampilan, gigi saya sekarang tidak kuning lagi seperti dulu saat masih merokok. Bau badan dan baju juga jadi lebih bersih,” ucapnya.

Dengan efektivitas dalam membantu perokok dewasa beralih dari kebiasaan merokok, Garindra mendorong agar edukasi mengenai produk tembakau alternatif perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Topik Menarik