Partai Perindo Soroti Arah Pembangunan Jakarta Jelang Usia 500 Tahun
JAKARTA - Di tengah laju pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, Jakarta masih dihadapkan pada persoalan kesenjangan ruang hidup dan partisipasi warga dalam pembangunan kota. Menjelang usia ke-500 tahun, isu tersebut menjadi pembahasan dalam diskusi publik Politik Warung Kopi: 499 Tahun Jakarta dan Pandangan Partai Perindo yang digelar DPW Partai Perindo DKI Jakarta di Mampang Prapatan, Selasa (23/6/2026).
Ketua DPW Partai Perindo DKI Jakarta, Manik Marganamahendra, menegaskan kebijakan pembangunan Jakarta harus lahir dari ruang dialog yang terbuka dan dekat dengan realitas masyarakat. Menurut dia, partisipasi warga menjadi faktor penting dalam menentukan arah pembangunan kota ke depan.
“Jakarta ke depan tidak cukup hanya dibangun dengan pendekatan ekonomi. Kota ini membutuhkan ruang-ruang yang adil untuk semua warganya juga ruang diskusi yang hidup, di mana warga bisa terlibat, menyampaikan gagasan, dan merasa memiliki arah pembangunan Jakarta,” kata Manik.
Pentingnya Keadilan Ruang bagi Warga
Pembahasan mengenai arah pembangunan Jakarta juga menyoroti pentingnya menjadikan kota sebagai ruang hidup yang inklusif. Sejarah panjang Jakarta dinilai dapat menjadi pijakan dalam merumuskan kebijakan yang lebih adaptif terhadap perubahan sosial, ekonomi, dan demografi yang terus berlangsung.
Hadir juga dalam kegiatan seorang sejarawan Jakarta, JJ Rizal, mengingatkan bahwa pembangunan kota tidak boleh mengabaikan aspek keadilan ruang bagi masyarakat. Dia menilai sejumlah persoalan perkotaan yang terjadi saat ini berakar dari kebijakan yang belum sepenuhnya memberikan akses setara bagi seluruh warga.
“Jakarta dibangun sebagai bandar kota dagang, jangan juga kita melanjutkan pembangunan kota yang rasis di mana tidak ada keadilan ruang untuk warganya yang menyebabkan makin parahnya kondisi Jakarta hari ini. Mulai dari masalah hunian sampai banjir,” ungkap JJ Rizal dalam diskusi tersebut.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan Jakarta tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga menyangkut tata kelola ruang yang berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat.
Warkop Aspirasa Jadi Wadah Pertukaran Gagasan
Menggugat Ilusi Kapitalisme Negara
Pada kesempatan yang sama, DPW Partai Perindo DKI Jakarta meluncurkan program "Warkop Aspirasa", sebuah ruang temu warga yang dirancang sebagai wadah diskusi terbuka dan pertukaran gagasan mengenai berbagai persoalan perkotaan.
Manik menjelaskan, inisiatif tersebut bertujuan mendekatkan politik dengan kehidupan sehari-hari masyarakat sekaligus membuka ruang partisipasi yang lebih luas dalam proses pembangunan.
“Dari ruang-ruang sederhana seperti warung kopi, kita ingin membangun tradisi dialog yang lebih jujur, setara, dan membumi. Di situlah ide-ide besar tentang masa depan Jakarta bisa tumbuh dan sebagaimana partai politik hadir menjadi pabrik gagasan,” ujar Manik.
Diskusi yang diikuti masyarakat umum, pegiat komunitas, dan sejumlah pemangku kepentingan itu menjadi bagian dari upaya Partai Perindo mendorong keterlibatan publik dalam merumuskan masa depan Jakarta. Menjelang lima abad usianya, kebutuhan akan ruang dialog dan kebijakan yang lebih inklusif dinilai menjadi salah satu prasyarat agar pembangunan kota mampu menjawab tantangan yang dihadapi warga.










