Trump Mati Langkah Mengatasi Iran

Trump Mati Langkah Mengatasi Iran

Terkini | okezone | Selasa, 27 Januari 2026 - 11:07
share

Penulis: M Sholeh Basyari, Dosen Pascasarjana INSURI Ponorogo dan Direktur Eksekutif Center for Strategic Islamic and International Studies (CSIIS) Jakarta

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampak maju mundur, jadi atau tidak menyikat Iran. Gagalnya agen-agen Amerika dan Israel memobilisasi demonstran di Iran untuk menjatuhkan rezim Khamenei membuat Trump geram sekaligus gentar.

Kegagalan ini terangkai oleh jatuhnya pesawat siluman F-35 Amerika yang dioperasikan Israel, Starlink yang on-off, hingga pesimisme para penasihat militer senior presiden Amerika paling nyentrik ini.

Trump Geram tetapi Gentar

Trump tampak gentar. Meski begitu, ia juga terlihat geram menghadapi Iran. Sikap geram Trump terbaca setelah Presiden Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa armada besar angkatan laut AS sedang bergerak menuju kawasan Teluk, dengan Iran menjadi fokus utama pengawasan Washington.

Kepada wartawan di dalam pesawat Air Force One usai menghadiri World Economic Forum di Davos, Swiss, Trump mengatakan Amerika Serikat terus memantau perkembangan situasi di Iran. Ia menegaskan kehadiran militer tersebut bersifat antisipatif di tengah meningkatnya eskalasi dengan Teheran.

Meski demikian, di sisi lain, seperti dikutip Al Jazeera, (23/1/2026), Trump menyatakan masih berharap situasi tidak berkembang menjadi konflik terbuka.

 

Pernyataan ini sejalan dengan laporan media AS yang menyebutkan bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kelompok kapal serangnya dialihkan dari Laut China Selatan menuju Timur Tengah. Armada tersebut diperkirakan tiba di kawasan itu dalam beberapa hari ke depan.

Langkah Washington ini muncul tak lama setelah Trump melunak dari ancaman sebelumnya terhadap Iran, menyusul klaim bahwa Teheran memberikan jaminan tidak akan mengeksekusi para demonstran anti-pemerintah. Trump bahkan menyebut ancamannya telah mencegah eksekusi lebih dari 800 orang, meski klaim tersebut dibantah oleh otoritas Iran.

Di sisi lain, Trump kembali membuka peluang dialog dengan kepemimpinan Iran. Namun, ia menegaskan garis merah AS tetap sama, yakni program nuklir Teheran.

Pernyataan tersebut merujuk pada serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025, ketika Washington bergabung dalam konflik 12 hari bersama Israel. Saat itu, AS juga melakukan peningkatan kekuatan militer secara signifikan di kawasan Timur Tengah.

Merespons hal tersebut, Presiden Iran memperingatkan AS bahwa serangan kepada Ayatollah Ali Khamenei berarti perang skala penuh (harb wasi'ah nithaq).

Selain itu, Pezeskhian juga memperingatkan semua serangan yang diarahkan ke Iran akan memicu respons keras.

 

"Serangan terhadap pemimpin besar negara kita (Ayatollah Ali Khamenei) berarti perang skala penuh dengan bangsa Iran," tulis Pezeskhian di media sosial X, dikutip dari Al Jazeera. 

Sementara Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi memperingatkan bahwa Teheran akan merespons keras jika kembali diserang. Dalam kolom opininya di Wall Street Journal, Araghchi menegaskan Iran tidak akan ragu membalas dengan seluruh kemampuan militernya.

Iran Bisa Berubah Menjadi Vietnam atau Afghanistan

Rasa gentar Trump terhadap Iran bukan tanpa alasan. Merujuk perang Vietnam (1955–1975) dan invasi AS ke Afghanistan (2001–2021) adalah trauma laten bangsa Amerika. Di dua medan tersebut, serdadu AS babak belur; mundur membawa kekalahan.

Sementara secara geopolitik dan ekonomi, meningkatnya ketegangan AS–Iran berpotensi memberi dampak lanjutan terhadap stabilitas kawasan, harga energi global, serta sentimen pasar keuangan internasional.

Dari sudut militer dan keamanan kawasan, Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Mayor Jenderal Mohammad Pakpour menggerakkan Trump. Seperti dikutip Al Mayadeen (surat kabar Ahlul Bait pro-Iran), pada Sabtu (24/1/2026) menyebut:

 

"Kali ini kami akan memperlakukan setiap serangan — terbatas, tidak terbatas, bedah (surgical), kinetik, atau apa pun istilah yang mereka gunakan — sebagai perang habis-habisan terhadap kami, dan kami akan merespons dengan cara sekeras mungkin untuk menyelesaikannya," gertaknya.

Akankah Iran bernasib seperti Venezuela? Atau sebaliknya, Amerika ketiban sial seperti dalam perang Vietnam dan invasi ke Afghanistan? Kita tunggu.

Topik Menarik