Diisukan Ngumpet di Bunker, Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei Muncul Ziarah ke Makam Khomenei
TEHERAN – Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei kembali muncul ke publik untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu dilanda kerusuhan. Ia tampak menghadiri doa atau ziarah di makam pendiri Republik Islam Islam, Ruhollah Khomeini.
Teheran mempublikasikan foto-foto langka sebagaimana dirilis media Iran, Sabtu 31 Januari 2026, Khamenei datang untuk memperingati 47 tahun Revolusi Islam Iran.
Melansir Times of Israel, Minggu (1/2/2026), Iran berusaha menunjukkan stabilitas negara setelah berminggu-minggu dilanda kerusuhan dan kekhawatiran akan serangan militer Amerika Serikat (AS). Sementara para pejabat Iran terus memperingatkan AS dan Israel agar tidak melakukan tindakan militer.
Publikasi foto-foto tersebut disinyalir bertujuan untuk membantah klaim oposisi awal bulan ini yang menyebut Khamenei telah dipindahkan ke bunker bawah tanah karena takut akan potensi serangan AS.
Iran Siaga Tinggi
Di hari yang sama, Panglima Angkatan Darat Iran Amir Hatami, memperingatkan AS dan Israel untuk tidak melakukan serangan. Ia menyatakan, pasukan negaranya berada dalam siaga tinggi menyusul pengerahan militer besar-besaran Washington di kawasan Teluk.
Hatami juga menegaskan keahlian nuklir Iran tidak dapat dihilangkan, sekaligus menanggapi pernyataan Donald Trump yang mengharapkan Teheran mencari kesepakatan demi menghindari serangan AS.
"Jika musuh melakukan kesalahan, tanpa ragu hal itu akan membahayakan keamanannya sendiri, keamanan kawasan, dan keamanan rezim Zionis," ujar Hatami sebagaimana dikutip oleh kantor berita resmi IRNA.
Ia menambahkan bahwa angkatan bersenjata Iran berada dalam "kesiapan defensif dan militer penuh." Washington diketahui telah mengirimkan armada ke Timur Tengah yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln. Trump mengancam akan melakukan intervensi militer setelah tindakan keras mematikan oleh otoritas Iran terhadap protes anti pemerintah selama dua minggu.
Pengerahan ini memicu kekhawatiran akan konfrontasi langsung. Iran telah memperingatkan akan membalas dengan serangan rudal ke pangkalan, kapal, dan sekutu AS—terutama Israel—jika diserang.
Meskipun Trump memprediksi Iran akan bernegosiasi mengenai program nuklir dan rudalnya, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan meskipun Teheran siap untuk pembicaraan nuklir, masalah rudal dan pertahanan "tidak akan pernah dinegosiasikan."









