Wall Street Dibuka Melemah, Pasar Pantau Eskalasi Timur Tengah

Wall Street Dibuka Melemah, Pasar Pantau Eskalasi Timur Tengah

Ekonomi | okezone | Selasa, 10 Maret 2026 - 22:24
share

JAKARTAWall Street dibuka melemah pada perdagangan Selasa (10/3/2026) waktu setempat. Pergerakan ini terjadi setelah pejabat Amerika Serikat (AS) memberikan komentar yang mengisyaratkan adanya eskalasi ketegangan di Timur Tengah, hanya sehari setelah Presiden Donald Trump memberikan sinyal mengenai potensi berakhirnya perang lebih awal.

Mengutip Investing, Dow Jones Industrial Average (DJI) turun 30,6 poin atau 0,06 persen ke level 47.771,43, S&P 500 (SPX) melemah tipis 0,6 poin atau 0,01 persen ke level 6.796,56 dan Nasdaq Composite terkoreksi 27,0 poin atau 0,12 persen ke level 22.722,93.

Pasar modal AS sempat bergerak fluktuatif pada Senin kemarin. Sentimen awalnya dibayangi kekhawatiran atas terpilihnya Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, putra dari mendiang Ali Khamenei. Sosoknya dinilai akan memperkuat sikap keras Iran dan memperkecil peluang berakhirnya konflik secara cepat.

Kekhawatiran tersebut sempat memicu lonjakan harga minyak hingga menyentuh USD120 per barel, level tertinggi sejak 2022. Hal ini disebabkan oleh kecemasan akan gangguan pasokan di Selat Hormuz, jalur vital bagi seperlima aliran minyak mentah dunia.

Lonjakan harga minyak memicu kenaikan imbal hasil (yield) obligasi, mencerminkan ketakutan bahwa kejutan harga energi akan memicu inflasi global. Kondisi ini bahkan menimbulkan spekulasi bahwa bank sentral mungkin akan kembali menaikkan suku bunga.

"Pasar keuangan global panik pada hari Senin karena menyadari bahaya dari penutupan berkepanjangan Selat Hormuz," tulis analis dari BCA Research dalam catatan mereka.

Namun, volatilitas ini mereda setelah Presiden Trump menyatakan kepada CBS News bahwa perang tersebut "sudah sangat selesai, hampir berakhir." Pernyataan ini sempat membuat saham berakhir lebih tinggi, harga minyak melandai, dan imbal hasil obligasi menurun di sesi sebelumnya.

 

Pada perdagangan Selasa, harga minyak mentah mulai menunjukkan koreksi yang signifikan seperti Minyak Brent turun 7 persen menjadi USD 92,01 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) merosot 6,7 persen ke level USD 88,39 per barel.

Penurunan ini juga dipengaruhi oleh kabar bahwa para menteri energi dari kelompok negara G7 akan mengadakan pembicaraan pada Selasa. Sebelumnya, menteri keuangan G7 telah mendiskusikan kemungkinan pelepasan cadangan minyak darurat untuk menstabilkan pasar mentah dunia.

Pasar kini menanti langkah konkret dari G7 dan perkembangan terbaru dari perbatasan Timur Tengah yang terus memengaruhi arah investasi global.

Topik Menarik