Tantang Invasi Darat Pasukan AS, Pimpinan Militer Iran: Kami Telah Lama Menunggu
JAKARTA – Pemimpin senior Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menantang Amerika Serikat (AS) untuk melancarkan invasi darat, dengan menegaskan bahwa Teheran siap menghadapinya. Tantangan itu disampaikan di tengah laporan yang menunjukkan Presiden Donald Trump tengah mengerahkan ribuan pasukan AS ke Timur Tengah, diduga sebagai sinyal invasi darat ke Iran.
Laksamana Ali Akbar Ahmadian, tokoh senior IRGC, menggambarkan potensi pengerahan pasukan AS sebagai skenario yang telah lama dinantikan oleh Iran.
“Selama bertahun-tahun, kami telah menunggu masuknya Amerika ke titik-titik yang telah ditentukan, dan selama lebih dari dua dekade, kami berlatih dengan strategi perang asimetris untuk momen ini,” katanya dalam unggahan di X. “Sekarang, kami hanya memiliki satu pesan untuk tentara Amerika: Mendekatlah.”
Pernyataan tersebut menunjukkan kepercayaan Iran pada doktrin perang nonkonvensional, yang memprioritaskan penguasaan medan, operasi terdesentralisasi, dan serangan terarah dibandingkan pertempuran konvensional.
Pesan Ahmadian diperkuat oleh cendekiawan Iran, Foad Izadi, yang berpendapat bahwa pengerahan pasukan AS justru akan menguntungkan Iran secara taktis.
“Para jenderal Iran sebenarnya akan menyambut baik hal itu karena lebih mudah menembak tentara di darat daripada menembak jet tempur F-35. Jadi Anda akan melihat banyak tentara Amerika tewas,” kata Izadi dalam wawancara dengan NDTV.
Ia membandingkan serangan jarak jauh dengan peperangan darat, dan menyatakan bahwa keterlibatan langsung akan membuat pasukan AS menghadapi risiko lebih tinggi. “Sebenarnya, bertempur di darat, saya rasa Amerika tidak mampu melakukannya,” tambahnya.
Komentar tersebut muncul setelah dua pejabat AS mengindikasikan bahwa Washington berencana mengirim pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82, unit elit berbasis di Fort Bragg, Carolina Utara, ke wilayah tersebut—sebuah langkah yang menandai peningkatan signifikan dalam postur militer.
Sinyal pengerahan pasukan ini muncul meski Washington secara terbuka menyatakan terbuka untuk negosiasi.
Presiden AS Donald Trump baru-baru ini mengatakan bahwa AS dan Iran telah terlibat dalam diskusi yang “produktif,” sebuah klaim yang ditolak Teheran sebagai “berita palsu.”
Iran menegaskan skeptisisme terhadap upaya AS bernegosiasi, dengan alasan Washington sebelumnya dua kali membujuk Iran ke meja perundingan yang justru diikuti aksi militer dan pembunuhan.
“Tidak ada yang akan tertipu oleh retorika semacam itu,” kata Izadi.
Sejauh ini, Trump mengatakan tidak ada rencana segera untuk mengerahkan pasukan darat ke Iran, tetapi tidak menutup kemungkinan opsi tersebut. Namun, pengerahan pasukan ke Timur Tengah mengindikasikan hal sebaliknya.










