Profil Lengkap Praka Farizal Rhomadhon, Anggota Pasukan Elite Raider yang Gugur di Lebanon
JAKARTA – Profil Praka Farizal Rhomadhon yang gugur di daerah penugasan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon Selatan, Lebanon, akan diulas lengkap dalam artikel Okezone, Selasa (31/3/2026).
Praka Farizal Rhomadhon gugur terkena usai proyektil yang menghantam salah satu pos penjagaan di dekat Desa Adchit al Qusayr di Lebanon Selatan.
"Prajurit yang gugur saat ini disemayamkan di East Sector Headquaters (HQ) dan dalam penyelesaian administrasi pemulangan ke Indonesia dengan dibantu oleh pihak KBRI Beirut," ujar Kapuspen TNI Mayjen Aulia Dwi Nasrullah.
“TNI juga terus memonitor perkembangan situasi di lapangan serta menyiapkan langkah-langkah kontijensi sesuai dinamika di Daerah Penugasan Lebanon,”pungkasnya.
Profil Praka Farizal Rhomadhon
Praka Farizal Rhomadhon tercatat sebagai personel di kesatuan Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti (Yonif 113), Batalyon Infanteri berkualifikasi Raider Khusus di bawah Brigif 25/Siwah Kodam Iskandar Muda.
Pria kelahiran, Kulon Progo, pada 3 Januari 1998, mempunyai jabatan terakhir sebagai Taban Provost 1 Ru Provost Kima.
Praka Farizal gugur meninggalkan seorang istri bernama Fafa Nur Azila (25) dan seorang anak Shanaya Almahyra Elshanu (2). Keduanya menikah pada 4 Juli 2023 lalu
Setiap hari, Praka Farizal tinggal di Asrama Militer (Asmil) Kima Yonif 113/JS, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, Aceh.
Sekadar diketahui, Batalyon Raider merupakan salah satu pasukan elite TNI yang berada di bawah Pasukan Komando. Secara umum, Batalyon Raider tak berbeda dengan prajurit Batalyon Infanteri, namun kemampuan individu Raider lebih baik dari prajurit Infanteri.
Ide membentuk pasukan elite di seluruh Kodam dicetuskan oleh Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu pada tanggal 22 Desember 2003. Langkahnya ditindaklanjuti dengan meningkatkan kualifikasi 10 pasukan infanteri reguler menjadi Raider, salah satunya dilatih kemampuan antiteror di Pusdikpassus milik Kopassus.
Pasukan tersebut dibentuk untuk meningkatkan daya cegah TNI. Sebab, Batalyon Raider mampu beroperasi dalam unit kecil, rahasia dan mendadak. Biasanya, dalam satu Kodam memiliki satu unit pasukan Raider.
Setiap Batalyon Raider terdiri atas 747 personel. Mereka memperoleh pendidikan dan latihan khusus selama enam bulan untuk perang modern, anti-gerilya dan perang berlarut.
Batalyon ini dilatih untuk memiliki kemampuan tempur lebih dari Batalyon Infanteri biasa. Mereka dilatih untuk melakukan penyergapan dan mobil udara, seperti terjun dari helikopter.










