Pakistan Ajukan Rencana Dua Tahap untuk Hentikan Perang AS dan Israel di Iran

Pakistan Ajukan Rencana Dua Tahap untuk Hentikan Perang AS dan Israel di Iran

Terkini | okezone | Senin, 6 April 2026 - 19:24
share

JAKARTA - Pakistan telah mengusulkan rencana dua tahap untuk mengakhiri perang Amerika Serikat (AS)-Israel di Iran dan membuka kembali Selat Hormuz. Washington dan Teheran dilaporkan sedang mempertimbangkan kerangka rencana tersebut.

Esmail Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, mengakui upaya diplomatik Pakistan, yang telah berbagi rencana dengan Iran dan Amerika Serikat untuk mengakhiri permusuhan, menurut Reuters. Baghaei menambahkan bahwa Teheran fokus pada keamanan negaranya di tengah meningkatnya serangan dari AS dan Israel. Sebuah universitas terkemuka di Teheran dan Pabrik Petrokimia South Pars di Asaluyeh telah dibom, menewaskan setidaknya 34 orang.

Axios pertama kali melaporkan pada Minggu (5/4/2026) bahwa Amerika Serikat, Iran, dan mediator regional sedang membahas potensi gencatan senjata 45 hari sebagai bagian dari kesepakatan dua tahap yang dapat mengarah pada pengakhiran permanen perang, mengutip sumber-sumber AS, Israel, dan regional.

Sumber tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa Kepala Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, telah berhubungan “sepanjang malam” dengan Wakil Presiden AS JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

 

“Semua elemen perlu disepakati hari ini,” kata sumber tersebut, menambahkan bahwa pemahaman awal akan disusun sebagai nota kesepahaman yang diselesaikan secara elektronik melalui Pakistan, satu-satunya saluran komunikasi dalam pembicaraan tersebut.

Berdasarkan proposal tersebut, gencatan senjata akan berlaku segera, membuka kembali Selat Hormuz, dengan waktu 15 hingga 20 hari diberikan untuk menyelesaikan kesepakatan yang lebih luas. Kesepakatan tersebut, yang untuk sementara disebut “Kesepakatan Islamabad,” akan mencakup kerangka kerja regional untuk selat tersebut, dengan pembicaraan tatap muka terakhir di Islamabad.

Sumber tersebut juga mengatakan bahwa kesepakatan akhir diperkirakan akan mencakup komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir sebagai imbalan atas pencabutan sanksi dan pelepasan aset yang dibekukan.

‘Tidak Akan Ada Pembukaan Kembali Selat Hormuz’

Iran menanggapi dengan menyatakan bahwa mereka tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sebagai bagian dari gencatan senjata sementara, kata seorang pejabat senior Iran kepada Reuters pada Senin (6/4/2026). Ia menambahkan bahwa Teheran tidak akan menerima tenggat waktu karena mereka sedang meninjau proposal tersebut. Washington, menurut pejabat itu, juga belum siap untuk gencatan senjata permanen. AS belum menanggapi rencana Pakistan.

 

Rencana 15 Poin AS ‘Tidak Logis’

Baghaei mengatakan pada Senin bahwa Teheran tidak akan pernah menerima rencana 15 poin yang diajukan oleh AS bulan lalu. Ia menyatakan bahwa Teheran telah menyusun tuntutannya di tengah usulan baru-baru ini untuk mengakhiri perang, tetapi hanya akan mengungkapkannya ketika waktunya tepat.

“Beberapa hari yang lalu, mereka mengajukan usulan melalui perantara, dan rencana 15 poin AS tercermin melalui Pakistan dan beberapa negara sahabat lainnya,” katanya.

Ia menambahkan bahwa “usulan tersebut sangat ambisius, tidak biasa, dan tidak logis.” Baghaei menegaskan bahwa Iran memiliki kerangka kerjanya sendiri:

“Berdasarkan kepentingan kami sendiri, berdasarkan pertimbangan kami sendiri, kami mengkodifikasi serangkaian tuntutan yang kami miliki dan tetap miliki,” ujarnya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri itu juga menolak gagasan bahwa keterlibatan dengan mediator menandakan kelemahan.

Kekhawatiran Global

Upaya diplomatik terbaru dari Pakistan ini terjadi di tengah meningkatnya permusuhan yang menimbulkan kekhawatiran akan gangguan terhadap pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan minyak global. Lebih dari 20 persen minyak dan gas dunia melewati jalur air ini, yang tetap berada di bawah blokade de facto Iran.

 

Dalam unggahan penuh amarah pada Minggu, Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghujani Teheran dengan “neraka” jika negara itu tidak mencapai kesepakatan pada akhir hari Selasa untuk membuka kembali selat tersebut.

Lebih dari 2.000 orang telah tewas di Iran sejak perang dimulai, menurut otoritas Iran. Israel juga telah menginvasi Lebanon selatan dan menyerang Beirut, di mana otoritas Lebanon mengatakan 1.461 orang, termasuk setidaknya 124 anak-anak, telah tewas. Lebih dari 1,2 juta warga Lebanon telah mengungsi.

Topik Menarik