Kisah Petani Punk Gunungkidul: Dari Jalanan hingga Jadi Pemasok Dapur MBG

Kisah Petani Punk Gunungkidul: Dari Jalanan hingga Jadi Pemasok Dapur MBG

Terkini | okezone | Minggu, 19 April 2026 - 15:11
share

JAKARTA – Di tengah stigma kehidupan jalanan yang kerap dipandang tanpa arah, sekelompok anak punk di Gunungkidul justru menemukan jalan pulang ke sawah, ke tanah, dan ke masa depan yang lebih pasti.

Mereka tergabung dalam komunitas Petani Punk, sebuah gerakan yang didirikan oleh Pratisna Sibag pada 2018. Gerakan ini lahir dari kegelisahan akan semakin minimnya generasi muda yang mau bertani.

"Waktu itu kami seperti setengah teler. Kami mentertawakan petani-petani tua di lahan. Tapi saat pulang, kami sadar, 10 sampai 20 tahun lagi mungkin sudah tidak ada petani," ujar Sibag, dikutip dari akun @petanipunk_gk, Minggu (19/4/2026).

Kesadaran itu menjadi titik balik. Dari yang sebelumnya akrab dengan kehidupan jalanan, puluhan anak punk mulai belajar bertani, mencangkul, menyemprot, hingga memupuk tanaman.

Awalnya hanya sekitar 40 anak jalanan yang bergabung. Kini, komunitas tersebut telah berkembang dan mendampingi lebih dari 120 pemuda di Padukuhan Kalangan, Gunungkidul. Misi mereka sederhana, membuktikan bahwa hidup layak bisa dibangun dari tanah sendiri tanpa harus merantau menjadi buruh di kota besar.

Namun perjalanan itu tidak mudah. Demi belajar bertani, Sibag bahkan pernah mengambil risiko besar dengan menggadaikan sertifikat tanah milik orang tuanya.

"Kami takut. Kalau gagal, orang tua kami bisa kehilangan rumah. Tapi saat itu kami nekat," katanya.

 

Keberanian itu berbuah hasil. Mereka berhasil panen, melunasi tanggungan, dan membuktikan kemampuan mereka sebagai petani.

Seiring waktu, kepercayaan warga pun tumbuh. Lahan-lahan tidur seluas 800 hingga 1.500 meter persegi mulai diberikan untuk mereka kelola. Hasil panen tak hanya menghidupi anggota komunitas, tetapi juga mendukung kegiatan sosial warga, seperti perayaan 17 Agustus hingga tahun baru.

Masuk Program MBG dan Jadi Kontrol Sosial

Kini, Petani Punk memasuki babak baru dengan terlibat dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai pemasok bahan pangan.

Bagi Sibag dan komunitasnya, keterlibatan ini bukan sekadar peluang ekonomi. Mereka juga membawa misi sebagai bagian dari kontrol sosial terhadap program tersebut.

"Kami ini kalau salah ya bilang salah, kalau benar ya jalan terus. Kalau di dapur MBG ada yang tidak beres, suara kami akan lebih kencang dari siapa pun karena kami ada di dalamnya," tegasnya.

Peran ganda ini menjadikan komunitas Petani Punk tidak hanya berkontribusi pada ketahanan pangan lokal, tetapi juga ikut menjaga transparansi dan kualitas program publik.

Dari anak-anak yang dulu dipandang sebelah mata, mereka kini berdiri sebagai petani, penggerak komunitas, sekaligus penjaga integritas.

Topik Menarik