5 Fakta Chatib Basri Bertemu Prabowo, Bantah Ditawari Jadi Menkeu
JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto memanggil jajaran Dewan Ekonomi Nasional (DEN) serta ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri, ke Istana Kepresidenan Jakarta. Pertemuan tersebut membahas kondisi ekonomi terkini, termasuk risiko pelemahan rupiah, arah kebijakan fiskal, serta isu yang berkembang mengenai kemungkinan perombakan kabinet yang langsung dibantah oleh Chatib Basri.
Pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan ekonom senior Chatib Basri di Istana Kepresidenan Jakarta menjadi sorotan publik. Dalam pertemuan tersebut, Chatib sekaligus meluruskan sejumlah isu, termasuk kabar dirinya ditawari posisi Menteri Keuangan.
Berikut Okezone rangkum fakta-fakta menarik terkait pertemuan Chatib Basri dengan Presiden Prabowo, Sabtu (13/6/2026)
1. Dipanggil Prabowo ke Istana bersama DEN
Presiden Prabowo Subianto memanggil jajaran Dewan Ekonomi Nasional (DEN) ke Istana Merdeka Jakarta pada Selasa (9/6/2026). Chatib Basri hadir bersama Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan.
Saat tiba di Istana, Chatib membenarkan bahwa dirinya akan bertemu Presiden Prabowo.
“Mau ketemu kan (sama Presiden), iya,” ujar Chatib kepada wartawan.
2. Bantah Ditawari Jadi Menteri Keuangan
Isu yang menyebut Chatib Basri akan masuk kabinet Prabowo sebagai Menteri Keuangan langsung dibantah oleh yang bersangkutan.
“Nggak ada. Masa… Ini kita bahas soal ekonomi kok,” ujarnya.
Chatib menegaskan bahwa pertemuan tersebut tidak membahas posisi kabinet.
3. Bahas Kondisi Ekonomi dan Risiko Rupiah
Dalam pertemuan itu, DEN membahas kondisi ekonomi nasional, termasuk risiko pelemahan nilai tukar rupiah yang dapat berdampak pada kenaikan harga-harga.
Anggota DEN, Chatib Basri, menyebut pelemahan rupiah perlu diantisipasi karena dapat mendorong kenaikan inflasi.
“Satu isu penting yang harus diperhatikan adalah risiko kenaikan harga-harga akibat pelemahan rupiah,” ujarnya.
4. Pemerintah Diminta Jaga Kepercayaan Publik
Chatib juga menekankan pentingnya menjaga kepercayaan publik dan pelaku ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Menurutnya, salah satu langkah yang dapat memperkuat kepercayaan adalah efisiensi anggaran serta penguatan program prioritas pemerintah.
5. DEN Nilai Ekonomi RI Masih Kuat, tapi Waspada Risiko Global
Anggota DEN lainnya, Firman Hidayat, menyebut fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dibandingkan masa krisis 1998.
Namun, ia mengingatkan adanya risiko dari ketidakpastian global, konflik internasional, dan pelemahan rupiah yang dapat memengaruhi harga domestik.
“Kita perlu waspada terhadap ketidakpastian ekonomi global,” ujarnya.










