Kisah Sedih Jonatan Christie, Pebulu Tangkis Indonesia yang Pulang Lebih Cepat dari Japan Open 2026 karena Telat Panas
TOKYO - Tunggal putra andalan Indonesia, Jonatan Christie, harus terhenti prematur di ajang Japan Open 2026. Pemain yang akrab disapa Jojo ini mengaku kesulitan mengendalikan jalannya pertandingan akibat laju shuttlecock yang tidak sesuai prediksi serta responsnya yang kurang cepat di lapangan.
Jonatan Christie resmi tersingkir setelah kalah dari wakil Thailand, Panitchaphon Teeraratsakul, di babak 32 besar Japan Open 2026. Dia kalah dalam dua gim langsung dengan skor 16-21 dan 14-21 di Tokyo Metropolitan Gymnasium, Tokyo, Jepang pada Selasa 14 Juli 2026.
Berlaga sebagai unggulan keempat pada turnamen BWF Super 750 tersebut, Jonatan tak mampu membendung permainan agresif Panitchaphon. Peraih medali emas Asian Games 2018 itu pun harus mengakui kehebatan Panitchaphon.
Jonatan mengungkapkan perubahan karakter shuttlecock menjadi salah satu faktor yang menyulitkannya sepanjang pertandingan. Menurutnya, laju kok jauh lebih cepat dibandingkan saat sesi latihan resmi sehingga memaksanya mengubah strategi di tengah laga.
1. Kendala Adaptasi Strategi di Lapangan
"Jadi, tadi juga sebenarnya sedikit berubah cara mainnya, pola strateginya, tetapi tadi masih kurang bisa mengatasi perubahan cara bermainnya itu," ujar Jonatan dikutip dari rilis resmi PBSI, Rabu (15/7/2026).
Sebenarnya, Jonatan mengawali gim pertama dengan cukup meyakinkan. Dia sempat memimpin 5-0, kemudian menjaga keunggulan hingga 7-4 sebelum Panitchaphon bangkit membalikkan keadaan dengan rentetan tujuh poin.
Selepas interval, Jonatan sempat memangkas ketertinggalan lewat tiga poin beruntun. Namun, Panitchaphon tetap mampu menjaga konsistensi permainannya hingga mengamankan kemenangan pada gim pembuka.
2. Terlambat Panas
Situasi semakin sulit bagi Jonatan pada gim kedua setelah langsung tertinggal 0-4. Pebulu tangkis berusia 28 tahun itu hanya mampu mendekat hingga skor 2-4, tetapi gagal mempertahankan momentum untuk mengejar lawannya.
"Bisa dibilang juga saya terlambat bereaksi dan beradaptasi terutama di gim kedua. Sempat ambil beberapa poin beruntun, tetapi sudah terlalu jauh beda jaraknya, cukup sulit untuk untuk mengejar. Hari ini Panitchapon juga bermain lebih agresif," jelas kampiun All England 2024 itu.
Kemenangan ini menjadi ajang balas dendam Panitchaphon atas Jonatan setelah sebelumnya kalah pada semifinal Indonesia Open 2026 melalui pertarungan tiga gim. Hasil tersebut sekaligus membuat rekor pertemuan keduanya kini menjadi imbang 1-1.









