Kisah Sedih Pearly Tan, Pebulu Tangkis Cantik Malaysia yang Alami Kemunduran Performa Usai Cedera
KABAR mengejutkan datang dari panggung Japan Open 2026 setelah ganda putri andalan Malaysia, Pearly Tan/M. Thinaah, harus mengepak koper lebih awal. Pasangan peringkat lima dunia itu secara tidak terduga langsung tersingkir di babak pertama turnamen berlevel Super 750 tersebut.
Pearly/Thinaah sejatinya mengawali laga dengan sangat meyakinkan, namun akhirnya takluk dari pasangan Taiwan, Hsu Yin-Hui/Lin Jhih Yun. Mereka menyerah lewat drama tiga gim dengan skor akhir 9-21, 21-17, dan 21-17 di Tokyo, Jepang, pada Selasa 14 Juli 2026.
Hasil minor ini menjadi catatan buruk tersendiri karena menjadi kekalahan perdana mereka dari sang lawan setelah selalu menang dalam tiga pertemuan sebelumnya. Ini juga merupakan eliminasi paling awal bagi Pearly/Thinaah sejak Kejuaraan Asia pada April tahun lalu.
1. Trauma Cedera
Kekalahan prematur ini memicu pertanyaan besar terkait penurunan performa Pearly/Thinaah yang sempat menduduki peringkat dua dunia. Grafik penampilan mereka dinilai merosot sejak April tahun ini, berbeda jauh dengan pencapaian impresif musim lalu.
Usut punya usut, Pearly Tan mengakui dirinya kini mengusung pendekatan bermain yang jauh lebih hati-hati di lapangan. Hal tersebut tidak lepas dari riwayat cedera punggung di Kejuaraan Asia yang sempat membuatnya absen selama dua bulan.
"Saya ingin bermain aman terlebih dahulu karena saya tahu kondisi saya lebih rentan. Saya mengalami beberapa cedera akhir-akhir ini," ungkap Pearly Tan dalam sesi wawancara pascapertandingan bersama BWF, dikutip dari New Straits Times, Rabu (15/7/2026).
"Bagi saya saat ini, kesehatan adalah yang terpenting. Saya hanya mencoba mengembalikan momentum, menghargai setiap pertandingan, dan memberikan yang terbaik, terlepas dari hasil menang atau kalah," tambahnya.
2. Hilang Ketenangan di Poin Kritis
Berbicara mengenai jalannya laga kontra pasangan Taiwan, Pearly menilai kegagalan mereka lebih disebabkan oleh faktor ketenangan, bukan masalah strategi bermain. Mereka kerap terburu-buru untuk mematikan bola saat memasuki momen-momen krusial.
"Pada poin-poin krusial, kami terburu-buru untuk menyelesaikan reli dan membuat kesalahan yang seharusnya tidak kami lakukan," imbuh Pearly.
M. Thinaah pun sepakat dan memberikan kredit khusus bagi lawan yang mampu menekan balik setelah kalah telak di gim pertama. Kegagalan mempertahankan poin di Tokyo ini membuat posisi mereka di peringkat dunia kian terancam menjelang China Open dan Kejuaraan Dunia di New Delhi Agustus mendatang.









