Tangis Mbappe dan Kutukan Semifinal yang Belum Berakhir

Tangis Mbappe dan Kutukan Semifinal yang Belum Berakhir

Olahraga | sindonews | Rabu, 15 Juli 2026 - 11:03
share

Kylian Mbappe berjalan meninggalkan lapangan Stadion Dallas dengan kepala tertunduk. Di tengah sorak sorai para pemain Spanyol yang merayakan keberhasilan melaju ke final Piala Dunia 2026, sang megabintang Prancis kembali harus menerima kenyataan pahit.

Bukan hanya karena Les Bleus kalah 0-2 di semifinal, tetapi juga karena satu catatan yang terus menghantuinya sepanjang karier di panggung sepak bola terbesar dunia. Bagi Mbappe, semifinal seolah menjadi bab yang ingin segera dihapus dari ingatan.

Selama tiga edisi Piala Dunia, penyerang Real Madrid itu telah menjelma menjadi salah satu mesin gol paling mematikan yang pernah dimiliki turnamen ini. Total 20 gol berhasil ia ciptakan hanya dalam tiga penampilan di Piala Dunia, membuatnya kini berada di posisi kedua daftar pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah, hanya terpaut satu gol dari Lionel Messi yang mengoleksi 21 gol.

Baca Juga: Prancis Terhenti di Semifinal, Macron: Terima Kasih Les Bleus

Namun, di balik statistik luar biasa tersebut, tersimpan sebuah ironi. Tak satu pun dari 20 gol Mbappe lahir di babak semifinal. Kutukan itu kembali berlanjut di Piala Dunia 2026. Menghadapi Spanyol, Mbappe dipercaya menjadi ujung tombak Prancis. Ia beberapa kali berusaha membongkar pertahanan La Furia Roja, tetapi disiplin lini belakang lawan membuat setiap upayanya kandas.

Saat peluit panjang berbunyi, papan skor menunjukkan kemenangan 2-0 untuk Spanyol dan mimpi Prancis menuju final pun sirna. Ini bukan kali pertama Mbappe mengalami kisah serupa.

Baca Juga: Tembus Final, Spanyol Auto Juara? Begini Rekor Mengilau Matador

Pada Piala Dunia 2018 di Rusia, Prancis menyingkirkan Belgia lewat gol tunggal Samuel Umtiti di semifinal. Mbappe tampil penuh, tetapi gagal mencatatkan namanya di papan skor.

Empat tahun kemudian di Qatar, Les Bleus kembali melaju ke final setelah mengalahkan Maroko 2-0 melalui gol Theo Hernandez dan Randal Kolo Muani. Lagi-lagi, Mbappe gagal mencetak gol.Kini, kekalahan dari Spanyol memastikan satu fakta yang semakin sulit diabaikan. Tiga semifinal Piala Dunia telah dilalui, tetapi belum sekali pun Mbappe mampu menjebol gawang lawan.

Padahal, di setiap fase lain turnamen, naluri mencetak golnya nyaris tak terbendung. Gol pertama Mbappe di Piala Dunia lahir saat menghadapi Peru pada fase grup Rusia 2018.

Setelah itu, ia hampir selalu menjadi pembeda di setiap babak. Pada Piala Dunia 2022, ia mencetak gol ke gawang Australia, memborong dua gol saat melawan Denmark, kembali mencetak dua gol ke gawang Polandia di babak 16 besar, lalu mengukir sejarah lewat hattrick spektakuler pada final melawan Argentina.

Ketajamannya terus berlanjut di Piala Dunia 2026. Mbappe mencetak dua gol ke gawang Senegal, satu gol saat menghadapi Irak, dua gol ke gawang Swedia pada babak 32 besar, gol kemenangan atas Paraguay di babak 16 besar, hingga akhirnya mencetak gol pertamanya di babak perempat final saat menghadapi Maroko.

Namun, begitu memasuki semifinal, produktivitas luar biasa itu seolah menghilang. Ironi lainnya, justru final selama ini menjadi panggung yang paling bersahabat bagi Mbappe. Sebelum edisi 2026, ia selalu tampil di partai puncak dan mencatatkan empat gol di final Piala Dunia, satu gol saat menghadapi Kroasia pada 2018 serta hat-trick bersejarah melawan Argentina pada final 2022.

Catatan tersebut menjadikannya pencetak gol terbanyak sepanjang masa di final Piala Dunia, melampaui nama-nama legendaris seperti Geoff Hurst, Pele, Vavá, dan Zinedine Zidane yang sama-sama mengoleksi tiga gol.

Sayangnya, untuk pertama kalinya dalam kariernya, Mbappe tidak akan tampil di final Piala Dunia. Prancis harus mengubur mimpi merebut trofi setelah dihentikan Spanyol, sementara Mbappe kembali membawa pulang sebuah pertanyaan yang belum terjawab. Bagaimana mungkin seorang penyerang yang begitu mematikan di hampir setiap fase turnamen justru selalu kehilangan sentuhannya di semifinal?

Itulah paradoks yang kini menjadi bagian dari perjalanan salah satu pencetak gol terbesar dalam sejarah Piala Dunia. Sebuah catatan yang membuat semifinal menjadi satu-satunya panggung yang belum pernah benar-benar berhasil ia taklukkan.

Topik Menarik